PANDANGAN SAYYID MUHAMMAD BIN ALAWI AL-MALIKI TENTANG PERINGATAN MAULID NABI ﷺ
Daftar Isi
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani rahimahullah 1944-2004 M adalah ulama besar Makkah, pengajar di Masjidil Haram, dan salah satu rujukan Ahlussunnah wal Jamaah di abad 20.
Beliau dikenal sangat cinta kepada Rasulullah ﷺ. Maka wajar jika beliau juga banyak menulis dan berbicara tentang Maulid.
1. KESIMPULAN PANDANGAN BELIAU: MAULID ITU SUNNAH HASANAH
Dalam kitabnya _“Al-Manhajus Sawi fi Ihtifal bil Maulidin Nabawi”_ dan ceramah-ceramahnya, Sayyid Alawi menegaskan:
"Perayaan Maulid Nabi ﷺ hukumnya sunnah hasanah, berpahala, dan termasuk bentuk mendekatkan diri kepada Allah"
Alasan utamanya: Tujuannya adalah menampakkan syukur atas nikmat terbesar yaitu diutusnya Nabi ﷺ.
Allah berfirman: _"Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira"_ QS. Yunus: 58
Sayyid Alawi menjelaskan: Rahmat terbesar adalah Rasulullah ﷺ. Maka bergembira dengan kelahiran beliau adalah bentuk syukur.
2. 5 DALIL YANG DIKEMUKAKAN SAYYID ALAWI*
1. Syukur atas Nikmat
Nabi ﷺ lahir adalah nikmat paling besar. Maka mengekspresikan syukur dengan majelis ilmu, sholawat, dan sedekah adalah ibadah.
Seperti Nabi ﷺ puasa Senin karena itu hari beliau dilahirkan HR. Muslim
2. Menghidupkan Sirah & Mengajarkan ke Umat
Maulid adalah sarana paling efektif untuk mengenalkan sirah, akhlak, dan perjuangan Nabi ﷺ kepada anak-anak dan masyarakat awam.
3. Berkumpul untuk Dzikir dan Sholawat
Isi Maulid: baca Al-Qur'an, sholawat, kisah Nabi, ceramah, doa. Semua ini diperintahkan agama dan dijanjikan malaikat akan mengelilingi majelis dzikir HR. Muslim
4. Ijma’ Ulama dan Amal Umat Islam
Sejak masa Sultan Muzaffar di Irbil abad ke-6 H, para ulama besar seperti Imam As-Suyuthi, Imam Ibnu Hajar, Imam As-Sakhawi semua membolehkan dan menganjurkan Maulid. Tidak ada 1 pun ulama 4 madzhab yang mengharamkan.
5. Kaedah: Al-Ashlu fil Asya’ Al-Ibahah.
Hukum asal perkara dunia dan adat adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkan. Maulid isinya kebaikan, maka hukum asalnya boleh bahkan sunnah.
3. APA SAJA YANG DIANJURKAN SAAT MAULID MENURUT BELIAU?
Sayyid Alawi merinci adab Maulid dalam kitabnya:
1. Membaca Al-Qur'an dan Sholawat,
Karena sholawat adalah perintah langsung dari Allah QS. Al-Ahzab: 56
2. Membaca Sirah dan Kisah Kelahiran Nabi ﷺ
Tujuannya agar cinta dan rindu kepada Nabi ﷺ bertambah
3. Memberi Makan dan Sedekah
Beliau menyebut ini sebagai bentuk memuliakan tamu Allah yang datang ke majelis Maulid
4. Ceramah Agama dan Nasihat
Mengisi majelis dengan ilmu agar umat semakin paham sunnah
5. Menjauhi Kemungkaran
Musik yang melalaikan, ikhtilath, boros, riya’. Kalau ada ini maka pahalanya hilang.
4. BANTAHAN BELIAU TERHADAP YANG MENGINGKARI MAULID
Sayyid Alawi menjawab 3 tuduhan umum:
1. "Bid'ah, tidak ada di zaman Nabi"
Jawab: Tidak semua yang baru itu sesat. Pembukuan Al-Qur'an, ilmu Nahwu, madrasah juga "baru". Tolok ukurnya: isinya sesuai syariat atau tidak.
2. "Menyerupai Natal"
Jawab: Kita tidak meniru, tapi kita bersyukur dengan cara Islam: sholawat, dzikir, puasa, sedekah.
3. "Boros dan Riya'"
Jawab: Itu bukan salah Maulidnya. Itu salah pelakunya. Sama seperti sholat, kalau riya' maka dosa. Tapi sholat tetap wajib.
5. KALIMAT EMAS DARI SAYYID ALAWI TENTANG MAULID
Beliau berkata:
_"Demi Allah, seandainya kami menghabiskan seluruh umur kami untuk memuji dan bersholawat kepada beliau, maka itu masih terlalu sedikit dibanding hak beliau atas kita. Maka bagaimana mungkin kami meninggalkan 1 hari di mana kami mengingat kelahirannya?"_
Beliau juga berkata: _"Cinta itu butuh bukti. Bukti cinta kepada Nabi adalah dengan banyak menyebutnya, mempelajari sirahnya, dan menghidupkan sunnahnya. Dan Maulid adalah salah satu pintunya."_
PENUTUP
Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Maulid bukan bid'ah. Maulid adalah:
Wadah cinta, sekolah akhlak, dan pesta syukur umat Islam atas lahirnya Rasulullah ﷺ.
Selama diisi dengan ketaatan dan adab, maka Maulid akan menjadi sebab turunnya rahmat, berkah, dan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat.
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu"_ QS. At-Taubah: 128
Wallahu A'lam Bishawab
Posting Komentar