Asbabun Nuzul Q.S. Al-Nur Ayat 11-19 Tentang Hadis al-Ifki - Kitabkuning90
Daftar Isi
Allah SWT menegaskan betapa buruknya orang-orang yang menyebarkan hadis al-ifk dalam Q.S. Al-Nur Ayat 11-19. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”. (Q.S. Al-Nur [24]: 11). [1]
Terdapat beberapa riwayat hadis yang menjelaskan tentang asbabun nuzul Q.S. Al-Nur Ayat 11 yang kesemua riwayat tersebut berujung pada riwayat Sayidah Aisyah yang menceritakan hadis al-ifk, sebagaimana keterangan Imam al-Khazin dalam Lubāb al-Ta’wīl fī Ma‘ānī al-Tanzīl berikut:
قوله عز وجل إن الذين جاؤ بالإفك عصبة منكم الآيات سبب نزولها ما روي عن ابن شهاب قال حدثني عروة بن الزبير وسعيد بن المسيب وعلقمة بن وقاص وعبد الله بن عبد الله بن عتبة بن مسعود عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم حين قال لها أهل الإفك ما قالوا[2]
Artinya: “Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga…” hingga beberapa ayat, asbabun nuzulnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Shihab yang berkata: Urwah ibn al-Zubair, Sa'id ibn al-Musayyab, Alqamah ibn Waqqas, dan Abdullah ibn Abdullah ibn Utbah ibn Mas'ud memberitahuku dari Aisyah istri Nabi SAW, ketika orang-orang yang menyebarkan al-ifk itu berkata kepadanya apa yang mereka katakan”.
Semua riwayat yang menjelaskan asbabun nuzul surat Al-Nur ayat 11 di atas berujung pada riwayat Sayidah Aisyah yang menceritakan hadis al-ifk. Diantara riwayat yang menjelaskannya adalah riwayat Imam Ahmad, Imam al-Bukhari dalam bentuk riwayat mu'allaq dan Imam Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah r.a, ia berkata pada saat Rasulullah SAW menerima wahyu:
كان أول كلمة تكلم بها أن قال: «أبشري يا عائشة، أما الله عز وجل فقد برأك» فقالت لي أمي: قومي إليه، فقلت: والله لا أقوم إليه، ولا أحمد إلا الله عز وجل، هو الذي أنزل براءتي، وأنزل الله عز وجل: إن الذين جاؤ بالإفك عصبة منكم الآيات العشر كلها[3]
Artinya: “Kalimat pertama kali yang Rasulullah ucapkan ketika itu adalah "Bergembiralah wahai Aisyah, ketahuilah bahwa Allah SWT benar-benar telah menyatakan kalau kamu bersih dan tidak bersalah”. Lalu ibuku pun berkata kepadaku, "Berdiri dan hampirilah beliau”. Lalu aku berkata, "sungguh demi Allah, aku tidak mau berdiri menghampiri beliau, dan aku tidak memuji melainkan Allah SWT, karena Dia-lah yang telah menurunkan wahyu tentang posisiku yang tidak bersalah”. Allah SWT menurunkan wahyu “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga… hingga sepuluh ayat semuanya”.
Surat Al-Nur ayat 11 dalam keterangan ini menjadi wahyu yang secara langsung telah mensucikan seorang perempuan mulia yaitu Saidah Aisyah, sehingga hal ini sangat berkesan di dalam hati para sahabat, salah satunya seorang sahabat yang bernama Masruq. Setiap kali Masruq meriwayatkan suatu riwayat dari Saidah Aisyah r.a, ia berkata:
حدثتني الصديقة بنت الصديق حبيبة رسول الله صلى الله عليه وسلم، المبرأة من السماء[4]
Artinya: “Telah menceritakan kepadaku al-Shiddiqah binti al-Shiddiq, kekasih Rasulullah SAW dan perempuan yang dinyatakan bersih dari langit”.
Imam Ibn Katsir juga menyatakan bahwa surat Al-Nur ayat 11 ini diturunkan berkenaan berita bohong yang disebarkan oleh orang-orang munafik tentang Sayidah Aisyah r.a serta kejadian tersebut menjadi suatu pelajaran yang sangat penting bagi umat mukmin agar tidak serta merta menerima berita yang belum pasti kebenarannya. Berikut keterangannya:
يرى بعض المفسرين أن هذه الآيات نزلت بسبب (حادثة الإفك) التي اتهمت فيها أم المؤمنين العفيفة البريئة الطاهرة الصدِّيقة (عائشة بنت أبي بكر الصديق) رَضِيَ اللَّهُ عَنْها زوج رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ والتي نزلت براءتها من السماء فكان ذلك درساً بليغاً للأمة، وعبرة للأجيال في جميع العصور والأزمان. [5]
Artinya: “Sebagian ulama mufassirin menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan dengan sebab kejadian al-ifk, yang pada kejadian tersebut menjadi tuhmah seorang wanita yang terpelihara, suci, lagi yang benar yaitu Sayyidatuna ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra yang merupakan istri Rasulullah. Dan diturunkan ayat ini juga karna pembersihan dari pada Allah dan kejadian tersebut menjadi suatu pelajaran yang sangat penting bagi umat. Dan menjadi i’tibar bagi yang akan datang disetiap masa”.
Sayyidatuna ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan wanita suci dan terpelihara yang Allah pilih untuk menjadi pendamping Rasulullah SAW, maka alangkah tidak pantas bila berita-berita negatif dinisbatkan kepadanya, apalagi berita yang berkenaan perselingkuhan atau perzinaan.
Footnote:
[1]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan Terjemahannya (Bandung: Diponegoro, 2010), h. 352.
[2]‘Alauddīn Abu Hasan al-Khāzin, Lubāb al-Ta’wīl fī Ma‘ānī al-Tanzīl, Jld. III, (Mesir: Maktabah Wahbah, 1985), h. 284.
[3]Wahbah al-Zuhailī, Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī‘ah wa al-Manhaj, Jld. 18, (Beirut: Dār al-Fikr al-Ma‘āṣir, 1418), h. 175.
[4]Wahbah al-Zuhailī, Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī‘ah wa al-Manhaj…, h. 177.
[5]Abi al-Fida Ismail ibn Umar ibn Kaṡīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Ażīm, Jld.VI, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘ilmiyah, tt), h. 10.
Semoga bermanfaat!!
Posting Komentar