Sebuah Renungan: Selingkuh, antara Takdir Allah atau Pilihan Manusia?
Daftar Isi
![]() |
| Ilustrasi Perselingkuhan |
“Kalau Allah sudah tahu kita akan berselingkuh… lalu siapa sebenarnya yang memilih?”
Allah mengetahui takdir kita.
Tapi kita tidak mengetahui takdir kita.
Yang kita hadapi adalah pilihan—dan setiap pilihan punya tanggung jawab.
MURID:
Guru… seorang istri tidak pernah tahu apakah besok ia akan bertemu mantannya.
Bisa saja pertemuan itu terjadi tanpa direncanakan.
Lalu kalau Allah sudah mengetahui semua yang akan terjadi, apakah pertemuan itu sudah ditakdirkan?
GURU:
Bisa jadi pertemuannya berada dalam takdir Allah.
Tetapi, Nak… engkau tidak pernah diberi tahu apa isi takdirmu sebelum ia terjadi.
Itulah rahasianya.
MURID:
Mengapa Allah tidak memberitahu kita?
GURU:
Karena kalau manusia mengetahui seluruh takdirnya sejak awal, ia mungkin berhenti memilih.
Bayangkan seorang istri mengetahui:
“Besok aku akan bertemu mantanku… lalu aku akan berselingkuh.”
Apa yang mungkin terjadi?
Ia bisa berkata, “Percuma aku menolak. Itu sudah takdir.”
Padahal Allah tidak menyuruh manusia menunggu takdir sambil meninggalkan ikhtiar.
MURID:
Jadi yang harus kupikirkan bukan apa yang sudah Allah ketahui?
GURU:
Benar. Karena engkau tidak mengetahui apa yang Allah ketahui.
Yang engkau tahu hanyalah pilihan yang ada di hadapanmu.
Ketika mantan datang, engkau memilih menjaga batas atau membuka pintu.
Ketika rindu datang, engkau memilih mengendalikannya atau mengikutinya.
Ketika kesempatan untuk berkhianat terbuka, engkau memilih mundur atau masuk ke dalamnya.
Di situlah ujianmu.
MURID:
Tapi bukankah Allah sudah mengetahui pilihanku sebelum aku memilih?
GURU:
Ya... Namun pengetahuan Allah bukanlah paksaan kepada manusia.
Allah mengetahui pilihanmu sebelum engkau melakukannya.
Tetapi engkau sendiri yang menjalaninya ketika waktunya tiba.
Karena itu jangan pernah berkata: “Aku berselingkuh karena Allah sudah menakdirkannya.”
Sebab sebelum berselingkuh, engkau tidak pernah melihat catatan takdirmu.
Yang ada di hadapanmu hanyalah sebuah pilihan dan pada pilihan itulah tanggung jawabmu berdiri.
MURID:
Jadi manusia berjalan dalam takdir yang tidak ia ketahui?
GURU:
Ya... Allah mengetahui seluruh perjalanan.
Manusia hanya mengetahui langkah yang sedang berada di depan kakinya.
Maka jangan sibuk menebak: “Apakah aku akan jatuh?”
Tanyakan: “Ketika godaan datang, apa yang akan kupilih?”
Karena kita tidak mengetahui takdir… tetapi kita selalu berhadapan dengan pilihan.
Dan mungkin… itulah rahasia mengapa hidup disebut ujian.

Posting Komentar