Penting! Apakah Ibnu Taimiyah menafsirkan istiwa’ dengan “duduk” (julūs)? - Kitabkuning90
Daftar Isi
![]() |
| Foto Gus Wafi |
Adanya kata julūs atau qu‘ūd dalam kitab karya Ibnu Taimiyah saat menjelaskan tentang makna "istawa 'ala al-'arsy", tidak otomatis berarti beliau mendefinisikan istiwa’ sebagai duduk. Sebuah ungkapan seorang pengarang kitab dalam karyanya harus dibedakan antara beberapa kedudukan, yaitu:
1. Apakah Ibnu Taimiyah mendefinisikan istiwa’ sebagai julūs,
2. Apakah Ibnu Taimiyah menetapkan julūs sebagai sifat tersendiri.
3. Atau Ibnu Taimiyah sekadar menukil riwayat atau perkataan ulama terdahulu.
Contoh “فإذا جاءهم، وجلس على كرسيه” yang terdapat dalam Majmū‘ al-Fatāwā, refaksi itu ternyata merupakan nukilan/ kutipan, bukan otomatis perkataan Ibnu Taimiyah sendiri.
Bahkan ketika menjelaskan istiwa’, Ibnu Taimiyah menyatakan:
وَلِلَّهِ تَعَالَى اسْتِوَاءٌ عَلَى عَرْشِهِ حَقِيقَةً... وَلَيْسَ اسْتِوَاءُ الْخَالِقِ كَاسْتِوَاءِ الْمَخْلُوقِينَ
Allah memiliki istiwa’ atas ‘Arsy secara hakikat, tetapi istiwa’ Allah tidak seperti istiwa’ makhluk.
Jadi, tidak cukup hanya menemukan kata “duduk” dalam kitab Ibnu Taimiyah untuk menuduh beliau menafsirkan istiwa’ sebagai duduk. Harus dibuktikan apakah beliau sendiri menjadikan julūs;duduk sebagai definisi atau makna istiwa’, atau sekedar mengutip pendapat tokoh lain.
SC. FB Al-Mizzi

Posting Komentar