Debat Seru Gus Wafi Vs Ustdz Toyyib - Kutipan Singkat || Kitabkuning90
Daftar Isi
![]() |
| Gus Wafi vs Ustdz Thoyyib |
Apa itu istiwa' Allah??
Dalam bahasa Arab itu ada istilah lafadz musytarak, kalau dalam bahasa Indonesia mungkin yang mudah saya artikan adalah lafadz yang multi makna.
Saya beri contoh dulu dalam bahasa Indonesia yang betul-betul mudah:
Kata: "Bulan" mempunyai dia arti, yaitu:
- Satelit bumi
- Jangka waktu 30 hari
"Rapat" berarti Pertemuan atau Barisan tidak renggang.
"Kepala" berarti Bagian anggota tubuh atau Pemimpin.
Semua lafadz di atas itu hakikatnya mempunyai makna lebih dari satu dan dalam bahasa sah-sah saja diartikan selama masuk akal dan sesuai atau nyambung dalam ucapan.
Sedangkan contoh dalam bahasa Arab terutama yang ada dalam Al-Qur'an:
"Quru'" = Suci / Haid
"Sholawat" = Rahmat / Berdoa / Istighfar
"Sujud" = Tunduk / Menghormati
"Istiwa" = Tetap / Menguasai / Sempurna / Tinggi / Menghadap / Lurus / Matang / Memaksa
Lafadz tersebut yang sudah disebutkan di atas mempunyai banyak makna dan semuanya itu betul secara hakikat bahasa. Itulah pengertian lafadz musytarak.
Nah di dalam Al-Qur'an disebutkan:
الرØÙ…Ù† على العرش استوى
Allah maha pengasih
على
Diatas
العرش
Arsy
استوى
Tetap / Menguasai / Sempurna / Tinggi / Menghadap / Lurus / Matang / Memaksa
Yang sedang di mas'alahkan makna mana yang paling benar karena lafadz tersebut secara bahasa arab itu lafadz mustarok atau multi makna .
Uniknya kedua pihak setuju dengan kaidah
Ø¥ِذَا تَعَارَضَ الشَّارِعُ ÙˆَاللُّغَØ©ُ Ù‚ُدِّÙ…َ الشَّارِعُ
Kaidah ini berkata kalau aturan syariat bertentangan dengan aturan bahasa maka dahulukan syariat, karena Nabi Muhammad diturunkan untuk mengajarkan syariat bukan bahasa.
Jadi, syariat mengatakan Tuhan itu tidak serupa sama sekali dengan makhluk dari segi apapun, baik mempunyai tangan, kaki, wajah atau ukuran duduk berdiri dan sebagainya.
sebagaimana syariat mengatakan Ù„َÙŠْسَ ÙƒَÙ…ِØ«ْÙ„ِÙ‡ِ Ø´َÙŠْØ¡ٌ.
Sedangkan dalam Al-Qur'an ada ayat yang mempunyai multimakna .
Tapi ingat, dalam seluruh bahasa arab tidak ada secara makna bahwa istiwa diartikan "'duduk/bersemayam"
Jadi sebetulnya Gus Wafi ingin mengingatkan seperti ini.
Kalau dalam ayat tersebut istiwa diartikan menguasai itu benar dari 2 sisi :
- Sisi bahsa karena secara bahasa mwnguasai itu adalah makna hakikay dari istiwa
- Sisi syariat karena sesuai dengan kesucian allah dari penyerupan dengan mahluk .
Jawab: Eh akhi paham gak pembicaraan dari awal, bukankah itu lafadz musytarak / multi makna. Menguasai juga itu makna hakiki secara bahasa dan didukung oleh syariat. Jadi makna istiwa diartikan menguasai itu benar secara hakikat bahasa dan juga benar secara hakikat syariat.
Kalau di artikan duduk / bersemayam maka salah dari 2 sisi :
- Sisi bahasa . Anda coba buka kamus bahasa arab maka anda tidak akan menemukan lafadz istiwa diartikan duduk / bersemayam sampai kiamat 3 hari lagi pun anda tidak akan menemukannya
- Bertentangan dengan syariat karena kalau di artikan duduk maka bertentangan dengan ayat ليس كمثله شيء
Padahal baik duduk ataupun menguasai kedudunya juga sering disematkan kepada mahluk.
Contoh jokowi menguasi Indonesia jokowi duduk di kursi.
Jawab: Gini saudara, kata "duduk" itu adalah bentuk anggota yang bisa kita lihat oleh indra dan wujud secara hakikat, maksudnya bukan khayalan atau bayangan.
Kalau menguasai , mendengar, melihat, itu bukan benda yang bisa dilihat atau dibayangkan tapi itu hanya konsep yang tidak memiliki wujud secara fisik.
Jadi beda antara "duduk" dan "menguasai" ketika disematkan kepada Allah.
Wallahua'lambisshowab.

Posting Komentar