Bolehkah berdiri saat Dibacakan Shalawat Nabi || Kitabkuning90
Daftar Isi
Padahal, anggapan-anggapan demikian sudah diperingatkan oleh as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Menurut beliau, anggapan tersebut dapat mencederai derajat Rasulullah saw. yang begitu agung.
Rasulullah saw. yang berada dalam alam barzakh memiliki derajat yang begitu tinggi dan sangat mulia, melebihi khayalan-khayalan remeh yang menggambarkan Nabi dengan jasadnya menghadiri setiap majelis pembacaan maulid.
Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi rasul akhir zaman. Berdiri seperti itu didasarkan pada istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam.
Terkait keberadaan Rasulullah saw. di alam barzakh, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menjelaskan:
الإعلام بفتاوى أئمة الإسلام (ص 25)
نَعَمْ إِنَّنَا نعْتَقِدُ أنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ حَيَاةً بَرْزَخِيَّة كَامِلَةً لَائقَةً بِمَقَامِهِ وَبمُقْتَضى تِلْكَ الْحَيَاةِ الْكَامِلَةِ الْعُلْيَا تَكُونُ رُوحُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَوَالَةً سَيَّاحَةً فِي مَلَكُوتِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَيُمْكِنُ أَنْ تَحْضُرَ مَجَالِسَ الْخَيْرِ وَمَشَاهِدَ النُّورِ وَالْعِلْمِ، وَكَذَا أَرْوَاحُ خُلَّصِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَتْبَاعِهِ. وَقَدْ قَالَ مَالِكٌ رحمه الله: بَلَغنِي أَنَّ الروحَ مُرْسَلَة تَذْهَبُ حَيْثُ شَاءَتْ.
"Ya, kami meyakini bahwa Rasulullah saw. hidup dengan kehidupan barzakh yang sempurna dan sesuai dengan kedudukan beliau. Dengan kehidupan tersebut, ruh beliau dapat berkeliling di alam malakut Allah dan dapat menghadiri majelis-majelis kebaikan, cahaya, dan ilmu. Demikian pula ruh orang-orang mukmin pilihan dari pengikut beliau. Imam Malik berkata, 'Telah sampai kepadaku bahwa ruh itu bebas pergi ke mana pun yang dikehendakinya.''
LANTAS BAGAIMANA YANG TEPAT?
Untuk merasakan kehadiran Rasulullah Saw dalam majelis tidak perlu sampai menganggap beliau hadir menggunakan jasad beliau yang mulia, cukup kita visualisasikan sosok beliau dalam pikiran.
الإعلام بفتاوى أئمة الإسلام (ص 27)
أَنَّ قَارِئ الْمَوْلِدِ الشَّرِيفِ مُسْتَحْضِرٌ لَهُ صلى الله عليه وسلم بِتَشخِيص ذاتِهِ الشَّرِيفَةِ وَهَذَا التَّصَور شَيْءٌ مَحْمودٌ وَمَطْلُوب، بَلْ لَا بُد أنْ يَتَوَفَّرَ فِي ذِهْنِ الْمُسْلِمِ الصَادِقِ فِي كُلِّ حِين لِيَكْمُلَ اتِّبَاعُهُ لَهُ وَتَزيد مَحَبَّتُهُ فِيهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ.
"Sesungguhnya pembaca Maulid Nabi yang mulia menghadirkan sosok beliau dalam pikirannya. visualisasi seperti ini adalah sesuatu yang baik dan dianjurkan. Bahkan, hendaknya selalu ada dalam pikiran seorang Muslim agar ia semakin sempurna dalam mengikuti beliau, semakin mencintai beliau, dan hawa nafsunya mengikuti ajaran yang beliau bawa."
الإعلام بفتاوى أئمة الإسلام (ص 27)
فَالنَّاسُ يَقُومُونَ احْتِرَامًا وَتَقْدِيرًا لِهَذَا التَّصَورِ الْوَاقِعِ فِي نُفُوسِهِمْ عَنْ شَخْصِيَّة ذلِكَ الرَّسُولِ الْعَظِيمِ مُسْتَشْعِرِينَ جَلَالَ الْمَوْقِفِ وَعَظَمَةَ الْمَقَامِ وَهُوَ أَمْر عَادِيٌّ كَمَا تَقَدَّمَ وَيَكَونُ اسْتِحْضَارُ الذَّاكِرِ ذَلِكَ مُوجِبًا لِزِيَادَةِ تَعْظِيمِهِ صلى الله عليه وسلم.
"Orang-orang berdiri sebagai bentuk penghormatan dan seolah-olah merasakan kehadiran Rasul dalam hati. Merasakan kemuliaan dan keagungan kedudukan beliau. Hal tersebut merupakan perkara yang wajar. Kehadiran gambaran itu dalam hati orang yang berdzikir juga menjadi sebab bertambahnya pengagungan kepada beliau”.
DALIL DAN HUKUM BERDIRI SAAT PEMBACAAN MAULID
Menurut Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki berdiri saat pembacaan maulid tidak ada landasan hukum, sehingga tidak memiliki hukum sunah ataupun wajib. Berdiri saat pembacaan maulid merupakan luapan kebahagiaan semata. Ketika perasaan bahagia datang ekspresi kebahagiaan tentu bermacam-macam.
Demikian pula kala pembacaan maulid, dalam Maulid al-Barzanji semisal, kita seolah-olah mengulang saat-saat Nabi Muhammad saw. lahir ke dunia, betapa bahagianya hati melihat, mendengar atau membaca kabar kelahiran manusia yang paling mulia. Spontan seluruh tubuh ikut berdiri, bahagia menyambut kelahiran beliau.
الإعلام بفتاوى أئمة الإسلام (ص 25)
فاعلم أَنَّ الْقِيَامَ فِي الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ لَيْسَ هُوَ بِوَاجِب وَلَا سُنَّةٍ، وَلَا يَصِح اعْتِقَادُ ذَلِكَ أَبَدًا، وَإِنَمَا هُوَ حَرَكَةٌ يُعَبِّرُ بِهَا النَّاس عَنْ فَرَحِهِمْ وَسُرُورِهِمْ فَإِذَا ذَكِرَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ وَخَرَجَ إِلَى الدُّنْيَا يَتَصَوَّرُ السَّامِعُ فِي تِلْكَ اللَّحْظةِ أَنَّ الْكَوْنَ كلَّهُ يَهْتَز فَرَحًا وَسُرُورًا بِهَذِهِ النِّعْمَةِ فَيَقُومُ مُظْهِرًا لِذَلِكَ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ, مُعَبِّرًا عَنْهُ فَهِيَ مَسْأَلَةٌ عَادِيّةٌ مَحْضَةٌ لَا دِينِيَّة إِنَّهَا لَيْسَتْ عِبَادَةً وَلَا شَرِيعَةً وَلَا سُنَّةً وَمَا هِيَ إِلَّا أنْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِهَا.
"Sesungguhnya berdiri dalam acara Maulid Nabi tidak wajib dan sunah. Meyakininya sebagai bentuk kesunahan dan kewajiban tidaklah benar. la hanya gerakan untuk mengungkapkan perasaan bahagia. Maka, ketika disebutkan kelahiran Nabi ke alam dunia, orang yang mendengarnya membayangkan seakan-akan seluruh alam semesta bergembira dan bersuka cita atas nikmat yang besar tersebut. Maka ia pun berdiri menunjukkan kegembiraan dan kebahagiaannya.
Jadi, hal itu hanyalah persoalan kebiasaan biasa, bukan persoalan agama. Berdiri tersebut bukan ibadah, bukan syariat, dan bukan pula sunnah. Hal itu tidak lain karena telah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat."
ANGGAPAN BAIK OLEH PARA ULAMA
Meskipun tidak ada landasan dari Al-Qur'an dan hadis, berdiri saat pembacaan maulid memiliki nilai positif. Hal ini dipertegas langsung oleh salah satu pengarang maulid terkenal Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji al-Husaini dalam maulidnya:
فتح العليم الستار المنجي (ص 68)
هذا وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقِيَامَ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ أَئمة ذوُو رِوَايَةٍ وَرَوِيَّةٍ فَطَوبى لِمَنْ كَانَ تَعْظِيمُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَايَةَ مَرَامِهِ وَمَرمَاه.
"Dan para imam yang memiliki ilmu dan pemikiran mendalam menganggap baik berdiri ketika disebutkan kelahiran Nabi yang mulia. Maka beruntunglah orang yang menjadikanpengagungan kepada Nabi sebagai tujuan dan cita-citanya."
Demikian pula disampaikan oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki:
الإعلام بفتاوى أئمة الإسلام (ص 26)
أَنَّهُ جَرَى عَلَيْهِ الْعَمَلُ فِي سَائِرِ الْأَقْطَارِ وَالْأَمْصَارِ وَاسْتَحْسَنَهُ الْعُلَمَاءُ شَرْقًا وَغَرْبًا وَالْقَصْدُ بِهِ تَعْظِيمُ صَاحِبِ الْمَوْلِدِ الشَّرِيفِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اسْتَحْسَنَهُ الْمُسْلِمُونَ فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَن وَمَا اسْتَقْبَحُوهُ فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيح كمَا تَقَدَّمَ فِي الحَدِيثِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودِ.
"Tradisi tersebut sudah biasa dijalankan di berbagai negeri dan dinilai baik oleh para ulama timur maupun barat. Tujuan utamanya adalah untuk menghormati Nabi Muhammad saw. Prinsip dasarnya merujuk pada hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud: apa yang dianggap baik oleh umat Islam, maka baik pula di sisi Allah."
اعانة الطالبين (ج 3 / ص 414)
(فائدة) جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه - صلى الله عليه وسلم - يقومون تعظيما له - صلى الله عليه وسلم - وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي - صلى الله عليه وسلم -، وقد فعل ذلك كثير من علماء الأمة الذين يقتدى بهم. قال الحلبي في السيرة فقد حكى بعضهم أن الإمام السبكي اجتمع عنده كثير من علماء عصره فأنشد منشده قول الصرصري في مدحه - صلى الله عليه وسلم -: قليل لمدح المصطفى الخط بالذهب على ورق من خط أحسن من كتب وأن تنهض الأشراف عند سماعه قياما صفوفا أو جثيا على الركب فعند ذلك قام الإمام السبكي وجميع من بالمجلس، فحصل أنس كبير في ذلك المجلس وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك مستحسن.
“Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut-sebut, orang-orang akan berdiri sebagai bentuk penghormatan bagi rasul akhir zaman. Berdiri seperti itu didasarkan pada istihsan (anggapan baik) sebagai bentuk penghormatan bagi Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan banyak ulama terkemuka panutan umat Islam. Al-Halabi dalam Sirah-nya mengutip sejumlah ulama yang menceritakan bahwa ketika majelis Imam As-Subki dihadiri para ulama di zamannya, Imam As-Subki membaca syair pujian untuk Rasulullah SAW dengan suara lantang, ‘Sedikit pujian untuk Rasulullah SAW oleh tinta emas//di atas mata uang dibanding goresan indah di buku-buku Orang-orang mulia terkemuka bangkit saat mendengar namanya//berdiri berbaris atau bersimpuh di atas lutut’ Selesai membaca syair Imam As-Subki berdiri yang kemudian diikuti oleh para ulama yang hadir. Kebahagiaan muncul di majelis tersebut dan maulid Rasulullah SAW diperingati di dalamnya. Pertemuan umat Islam demi kelahiran Rasulullah SAW juga didasarkan pada istihsan.
KESIMPULAN
Anggapan bahwa Rasulullah saw. hadir secara fisik saat pembacaan maulid adalah pemahaman yang keliru dan dapat merendahkan derajat beliau.
Namun, sudah seharusnya bagi setiap muslim untuk selalu menghadirkan sosok beliau dalam pikiran dan hati, merasa selalu diawasi oleh beliau supaya dapat mengikuti ajaran-ajaran beliau dengan sempurna. Berdiri saat maulid memang tidak ada dalil dari al-Qur'an dan hadis, melainkan murni ekspresi kebahagiaan dan penghormatan yang wajar bagi orang yang memiliki mahabbah tinggi kepada Rasulllah saw.
Posting Komentar