Membuat Syarat Tambahan dalam Jual Beli, Sahkah?
Daftar Isi
Ulama mazhab Syāfi’i memandang bahwa membuat syarat tambahan dalam akad jual beli dibolehkan dengan ketentuan bila maksud syarat yang dibuat tidak bertentangan dengan tujuan akad. Hal ini dipertegas pula oleh Imam Al-Nawawi berikut:
ولو شرط مقتضي العقد كالقبض والرد بعيب أو ما لا غرض فيه كشرط أن لا يأكل إلا كذا صح ولو شرط وصفا يقصد ككون العبد كاتبا أو الدابة حاملا أو لبونا صح[1]
Artinya: “Jikalau disyaratkan sesuatu yang merupakan tujuan utama akad, seperti syarat serah terima dan syarat mengembalikan barang dengan sebab aib, atau perkara yang tidak ada tujuannya seperti syarat tidak memakannya kecuali dalam keadaan demikian, maka sah hukumnya. Jika disyaratkan suatu cirri-ciri yang ada maksudnya, seperti keadaan hamba sahaya yang bisa menulis atau hewan yang hamil atau mempunyai susu, maka sah juga”.
Hal ini juga didukung oleh Muhammad al-Ramli dalam Nihᾱyah al-Muhtᾱj ila Syarh al-Minhᾱj beliau yang menjelaskan bahwa amaksud sah disini juga adalah kedudukan syarat tersebut tidak merusak akad. Berikut keterangan beliau:
(ولو شرط مقتضى العقد كالقبض والرد بعيب صح) يعني لم يضر[2]
Artinya: “(Jikalau disyaratkan sesuatu yang merupakan tujuan utama akad, seperti syarat serah terima dan syarat mengembalikan barang dengan sebab aib, maka sah hukumnya), maksudnya tidak merusak akad.
Ibnu Hajar al-Haitami juga menegaskan hal yang serupa dalam karya beliau kitab Tuhfah al-Muhtᾱj sebagai berikut:
(ولو شرط مقتضى العقد كالقبض والرد بعيب) صح يعني لم يضره إذ هو تصريح بما أوجبه الشارع[3]
Artinya: “(Jikalau disyaratkan sesuatu yang merupakan tujuan utama akad, seperti syarat serah terima dan syarat mengembalikan barang dengan sebab aib, maka sah hukumnya), maksudnya tidak merusak akad, karena syarat tersebut adalah memperjelas dengan sesuatu yang diwajibkan pemberi syariat”.
Namun sebaliknya, bila syarat atau perjanjian tambahan tersebut merupakan perkara yang berlawanan dengan tujuan utama akad, maka dapat berakibat fatal terhadap keabsahan akad jual beli tersebut, sebagaimana penjelasan Imam al-Nawawi dalam karya beliau berikut:
وعن بيع وشرط كبيع بشرط بيع أو قرض ولو اشترى زرعا بشرط أن يحصده البائع أو ثوبا ويخيطه فالأصح بطلانه[4]
Artinya: “Rasulullah juga melarang dari jual beli beserta syarat seperti jual beli dengan syarat jual atau syarat utang. Jikalau seseorang membeli tanaman dengan syarat dipanen oleh si penjual atau membeli pakaian dengan syarat dijahit oleh penjual, maka menurut pendapat kuat batal akad tersebut”.
Al-Khatib al-Syarbini menjelaskan hal yang senada dengan keterangan di atas, serta menerangkan alasan yang membuat batal akad tersebut. Berikut ungkapan beliau:
(ولو اشترى زرعا بشرط أن يحصده البائع أو ثوبا) بشرط أن يخيطه البائع أو (ويخيطه) البائع وما أشبه ذلك (فالأصح) من طرق ثلاثة (بطلانه) أي الشراء لاشتماله على شرط عمل فيما لم يملكه المشتري الآن؛ لأنه لم يدخل في ملك المشتري إلا بعد الشرط، وذلك فاسد[5]
Artinya: “(Jikalau seseorang membeli tanaman dengan syarat dipanen oleh si penjual atau membeli pakaian) dengan syarat dijahit oleh penjual atau (beserta dijahit) oleh penjual dan hal serupanya, maka menurut pendapat kuat dari tiga jalur pendapat menyatakan (batal akad tersebut), maksudnya batal jual beli tersebut, karena mencakup atas syarat/perjanjian sebuah pekerjaan pada barang yang belum dimiliki pembeli ketika itu, karena barang tersebut belum termasuk milik pembeli melainkan sesudah adanya syarat tersebut dan hal demikian tentu tidak dapat terlaksana”.
Memahami dari ibarat di atas, bahwa jual beli yang diiringi dengan syarat atau perjanjian tambahan dapat berakibat fatal kepada tidak sahnya akad tersebut, sebagaimana contoh di atas bahwa akad jual beli yang dikaitkan dengan syarat/ perjanjian untuk melakukan sebuah pekerjaan atas barang jaul beli tersebut dapat mengakibatkan batalnya akad jual beli, karena antara keabsahan jual beli tersebut telah digantungkan kepada syarat yang malah bergantung juga pada keabsahan akad jual beli, dalam contoh di atas, bahwa keabsahan jual beli tanaman digantungkan pada pekerjaan memanennya yang padahal syarat tersebut baru dapat dilakukan bila tanaman tersebut sudah sah menjadi milik si pembeli. Hal inilah yang menurut Al-Khathib al-Syarbini dapat menyebabkan batalnya akad, karena merusak prinsip dari akad itu sendiri yang tidak boleh di-ta’līq (dikaitkan).
Keterangan Khathib al-Syarbini tersebut juga didukung dengan pernyataan Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Tuhfah al-Muhtᾱj berikut:
(فالأصح بطلانه) أي الشراء لاشتماله على شرط فاسد لتضمنه إلزامه بالعمل فيما لم يملكه بعد …فبيع بشرط إجارة أو إعارة أو غيرهما باطل كذلك سواء أقدم ذكر الثمن على الشرط أم أخره عنه[6]
Artinya: “Maka menurut pendapat kuat batal akad tersebut), maksudnya akad jual beli tersebut, karena mencakup di atas syarat yang rusak, karena mengandung unsure mewajibkan sebuah pekerjaan pada barang yang padahal belum dimilikinya sesudah itu. Maka jual beli dengan syarat sewa atau pinjam atau selain keduanya juga hukumnya batal sama seperti demikian, baik itu terlebih dahulu disebutkan harga atas syarat atau diakhirkan dari padanya”.
Dari penjelasan ini dapat di pahami bahwa syarat atau perjanjian tambahan dalam akad dibolehkan selama tidak bertentangan dengan tujuan utama akad, bila syarat tambahan tersebut malah berlawanan dengan tujuan utama akad, maka dapat berakibat batalnya syarat dan akad tersebut. Disamping itu, syarat dan perjanjian tambahan dalam Islam disyaratkan bukan perkara yang diharamkan, sebagaimana penjelasan berikut:
المسلمون على شروطهم، إلا شرطاً أحلّ حراماً، أو حرّم حلالاً[7]
Artinya: “Orang muslim harus memperhatikan syarat/ janji mereka, kecuali perjanjian yang menghalalkan perkara haram atau mengharamkan perkara halal”.
Namun, Ibnu Hajar al-Haitami juga menjelaskan bahwa syarat/ perjanjian yang mengiringi akad hanya dapat berpengaruh kepada membatalkan akad bila diucapkan dalam akad, bila diucapkan sebelum akad, maka tidak berpengaruh apapun terhadap akad.
Berikut keterangan beliau:
(تنبيه) الشرط المؤثر هنا هو ما وقع في صلب العقد من المبتدئ به ولو المشتري سواء أكان هناك محاباة من البائع لأجله أم لا[8]
Artinya: “(Peringatan) Syarat yang dapat berpengaruh disini adalah yang terjadi dalam akad dari orang yang memulai akad, sekalipun itu pembeli. Baik disana terdapat rasa kecintaan dari penjual karenanya ataupun tidak”.
Penjelasan tersebut juga didukung oleh Imam al-Haramain, sebagaimana yang dijelaskan dalam fatwa beliau berikut:
والحاصل ان كل شرط مناف لمقتضى العقد انما يبطل ان وقع في صلب العقد او بعده وقبل لزومه لا ان تقدم عليه ولو في مجلسه[9]
Artinya: “Sebagai kesimpulan bahwa tiap-tiap syarat yang berlawanan dengan tujuan akad dihukumi batal hanya jika terjadi dalam akad atau sesudah akad sebelum luzumnya akad, tidak demikian jika janji yang terdahulu di atas akad sekalipun masih dalam majlis akad”.
Pernyataan yang sama persis juga diterangkan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam karya beliau sebagai berikut:
والحاصل ان كل شرط مناف لمقتضى العقد انما يبطل ان وقع في صلب العقد او بعده وقبل لزومه لا ان تقدم عليه ولو في مجلسه[10]
Artinya: “Sebagai kesimpulan bahwa tiap-tiap syarat yang berlawanan dengan tujuan akad dihukumi batal hanya jika terjadi dalam akad atau sesudah akad sebelum luzumnya akad, tidak demikian jika janji yang terdahulu di atas akad sekalipun masih dalam majlis akad”.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kedudukan syarat/ perjanjian tambahan dalam akad jual beli diakui oleh syariat dan seorang muslim harus menepatinya. Namun menurut pandangan fiqh Syāfi’iyyah, syarat/ perjanjian tambahan dalam akad jual beli dapat dihukumi haram atau bahkan berdampak kepada batalnya akad dengan beberapa ketentuan, yaitu:
- Syarat tambahan tersebut merupakan perkara yang diharamkan dalam agama, seperti jual beli cuka dengan syarat dijadikan khamar.
- Syarat tersebut merupakan perkara yang menyalahi tujuan utama atau prinsip akad, seperti jual beli dengan syarat member utang.
- Syarat yang menyalahi ketentuan akad tenrsebut diucapkan sekaligus dalam akad jual beli.
Footnote:
[1]Abu Zakaria Yahya Ibn Syaraf An-Nawawi, Minhᾱj al-Thalibin wa Umdah al-Mftin, (Beirut: Dar al-Fikri, 2005), h.97.
[2]Syamsyuddin Ar-Ramli, Nihᾱyah al-Muhtᾱj Ila Syarhi al-Minhᾱj, Jld. III, (Beirut: Dar al-Fikri. 1984), h.459.
[3]Ahmad ibn Hajr Al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtᾱj fi Syarh al-Minhᾱj, Jld. IV, (Beirut: Dar Al-Fikr 2009), h.304.
[4]Abu Zakaria Yahya Ibn Syaraf An-Nawawi, Minhᾱj al-Thalibin wa Umdah al-Mftin, (Beirut: Dar al-Fikri, 2005), h.97.
[5]Muhammad bin Ahmad Al-Khatib Al-Syarbaini, Mughni Al-Muhtᾱj, Jld. II, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1994), h.381.
[6]Ahmad ibn Hajr Al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtᾱj fi Syarh al-Minhᾱj, Jld. IV, (Beirut: Dar Al-Fikr 2009), h.296.
[7]Abdul Muhsin al-Zamili, Syarh al-Qawa’id al-Sa’diyyah, (Beirut: Dar al-Fikri, 2002), h.174.
[8]Ahmad ibn Hajr Al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtᾱj fi Syarh al-Minhᾱj, Jld. IV, (Beirut: Dar Al-Fikr 2009), h.301.
[9]Imam al-Haramain, Fatawa Imam Al-Haramain, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 149.
[10]Ahmad ibn Hajr Al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtᾱj fi Syarh al-Minhᾱj, Jld. IV, (Beirut: Dar Al-Fikr 2009), h.296.
#jualbeli #syarat
Semoga bermanfaat !!
Posting Komentar