Syarat Menghadap Kiblat dalam Shalat Menurut Imam Mazhab yang Empat - Kitabkuning90
Daftar Isi
Salah satu syarat sah shalat ialah menghadap kiblat. Arah kiblat umat Islam seluruh dunia ialah Ka’bah yang berada di Makkah. Seseorang yang tidak menghadap kiblat saat shalat, dihukumi tidak sah, kecuali dalam dua kondisi, yakni ketika shalat khauf dan shalat sunnah yang dilaksanakan di atas kendaraan. Hal ini dinyatakan oleh Imam Abu Ishak al-Syairazi dalam kitab Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syᾱfi’i sebagai berikut:
استقبال القبلة شرط في صحة الصلاة إلا في حالين في شدة الخوف وفي النافلة في السفر
Artinya: “Menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat kecuali dalam dua kondisi, yakni ketika kondisi teramat bahaya (perang berkecamuk) dan shalat sunnah yang dikerjakan saat perjalanan”. [1]Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syᾱfi’i , juz. I, (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), h.129.
Terkait kewajiban menghadap kiblat saat shalat, memiliki dua kondisi yang berbeda dan berakibat kepada konsekwensi hukum yang berbeda pula. Bila Ka’bah tampak langsung di depan mata, maka wajib menghadap ‘ain (dzat) Ka’bah tersebut. Namun para ulama madzhab berbeda pendapat bila dalam kondisi jauh dari Ka’bah, sebagaian ulama dari satu madzhab berpendapat bahwa yang wajib dihadap adalah ‘ain (dzat) ka’bah dan sebagian madzhab yang lain berpendapat yang wajib dihadap hanyalah arahnya saja. Berikut penulis paparkan perbedaan pandangan ulama madzahib arba’ah dalam memaknai kewajiban menghadab kiblat saat shalat bila dalam keadaan jauh dari Ka’bah:
a) Madzhab Hanafi
Ulama Madzhab Hanafi berpendapat perihal menghadap kiblat dalam shalat bila jauh dari Ka’bah, adalah cukup dengan menghadap arahnya, tidak harus menghadap ‘ain (fisik) Ka’bah. Pendapat ini sama dengan pandangan dalam madzhab Maliki, sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni berikut:
وذهب الحنفية والمالكية إلى أنّ الواجب استقبال جهة الكعبة.
Artinya: “Ulama madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa sesungguhnya yang wajib adalah menghadap arah Ka’bah”. [2]Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni, Rawai’ al-Bayan fi Tafsir Ayah al-Ahkam Cet.III, (Bairut: Maktabah al-Ghazali, 1980) h.124.
Terkait kewajiban menghadap kiblat saat shalat bila jauh dari Ka’bah, Syaikh Abdurrahman Al-Jazari menjelaskan pandangan ulama madzhab Hanafi sebagai berikut:
الحنفية قالوا: من يجهل القبلة ويريد أن يستدل عليها لا يخلو حاله إما أن يكون في بلدة أو قرية. وإما أن يكون في الصحراء ونحوها … فإن كان الشخص في بلد من بلدان المسلمين. وهو يجهل جهة القبلة. فإن له ثلاث حالات: الحالة الأولى: أن يكون في هذه البلدة مساجد بها محاريب قديمة. وضعها الصحابة أو التابعون … وفي هذه الحالة يجب عليه أن يصلي إلى جهة هذه المحاريب القديمة.
Artinya: “Ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa seseorang yang jahil akan kiblat dan berencana untuk mencari petunjuknya, maka tidak akan sunyi keadaannya adakala berada dalam sbuah ngeri atau perkampungan dan adakala berada di padang atau seumpamanya… Maka jika sseorang tersebut berada di suatu negeri orang-orang Islam, dan dirinya tidak mengetahui arah kiblat, maka berlaku baginya tiga kondisi. Kondisi yang pertama adalah dalam negeri tersbut ada mesjid-mesjid yang mempunyai mihrab masa dahulu yang dibuat oleh para sahabt dan para tabi’in, maka dalam keadaan ini wajib atasnya untuk sembahyang menghadap searah mihrab terdahulu tersebut”. [3]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, (Bairut: Dar al-Kutub al-ilmiyah, 2003) h.179.
الحالة الثانية: أن يكون جهة ليست بها محاريب قديمة. وفي هذه الحالة يجب أن يعرف القبلة بالسؤال عنها
Artinya: “Keadaan yang kdua adalah keberadaan orang tersebut di arah yang tidak ada mihrab masa lalu di tempat tersebut. dan pada keadaan ini wajib atasnya mengetahui kiblat dengan cara menanyakannya”. [4]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah…, h.179.
الحالثة الثالثة: أن لا يجد محراباً ولا شخصاً يسأله، وفي هذه الحالة عليه أن يعرف القبلة بالتحري، بأن يصلي إلى الجهة التي يغلب على ظنه أنها جهة القبلة
Artinya: “Kondisi yang ketiga adalah tidak ada mihrab dan tidak ada orang yang bisa ditanyai. Maka pada kondisi ini wajib atasnya untuk mengetahui kiblat dengan ber-ijtihᾱd, dengan cara seseorang tersebut shalat ke arah yang didominan oleh sangkaannya bahwa arah tersebut adalah arah kiblat”. [5]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah…, h.179.
أما إن كان مسافراً في الصحراء ونحوها من الجهات التي ليس بها سكان من المسلمين، فإنه إذا كان عالماً بالنجوم، ويعرف اتجاه القبلة بها أو بالشمس أو القمر، فذاك، وإن لم يكن عالماً ووجد شخصاً عارفاً بالقبلة، فإنه يجب عليه أن يسأله. وإذا سأله ولم يجبه، فعليه أن يجتهد في معرفة جهة القبلة بقدر ما يستطيع، ثم يصلي
Artinya: “Adapun jika keadaan orang tersebut dalam musafir di lapangan atau seumpamanya yang tidak ada tempat tinggal orang-orang muslim, maka jika dirinya mampu mengetahui kiblat dengan bintang, dan mengetahui arah menghadapnya dengan bintang tersebut atau dengan matahari atau bulan, maka lakukanlah demikian. Namun jika dirinya tidak mungkin mengetahuinya dan bertemu dengan orang yang mengetahui kiblat, maka wajib atasnya untuk bertanya, tapi bila saat ditanya dan tidak mendapat jawaban, maka wajib atasnya ber-ijtihᾱd untuk mengetahui arah kiblat dengan ukuran semampunya, kemudian laksanakan shalat”. [6]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah…, h.179.
Dari keterangan ini tampak jelas bahwa yang wajib perihal menghadap kiblat bagi oang yang jauh dari Ka’bah menurut madzhab Hanafi adalah hanya wajib menghadap arah Ka’bah saja dengan konsekuensi bila seseorang berada di daerah pemukiman wajib atasnya mengikuti mihrab masjid masa lalu atau bertanya pada orang lain di tempat tersebut atau ber-ijtihᾱd sendiri mencari ke mana arah kiblat. Bila dia berada bukan di daerah pemukiman orang Islam, maka wajib baginya ber-ijtihᾱd sendiri mencari arah kiblat, bila tidak bisa baru bertanya pada orang lain”.
b) Madzhab Maliki
Adapun dalam madzhab Maliki, ketentuan menghadap kiblat dalam sembahyang bagi orang yang jauh dari Ka’bah adalah sebagai berikut:
المالكية قالوا: يجب على من كان بمكة أو قريباً منها أن يستقبل القبلة بناء الكعبة، بحيث يكون مسامتاً لها بجميع بدنه، ولا يكفيه استقبال هوائها، على أنهم قالوا: إن من صلى على جبل أبي قبيس فصلاته صحيحة، بناءً على القول المرجوح من أن استقبال الهواء كاف
Artinya: “Ulama madzhab Malikiyyah berpendapat; Wajib atas orang yang berada di Makkah atau di dekatnya untuk menghadap kiblat pada fisik bangunan Ka’bah, sekira-kira keadaan orang tersbeut setentang Ka’bah dengan sekalian tubuhnya dan tidak cukup hanya menghadap hawa Ka’bah, berdasarkan pendapat mereka yang menyatakan bahwa terkait seseorang yang shalat di bukit Abi Qubis, maka shalatnya sah, pendapat tersebut berdasarkan pendapat lemah dari pendapat menghadap hawa Ka’bah adalah memada”. [7]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah…, h.177.
إذا كان المصلي في جهة لا يعرف القبلة، فإن كان في هذه الجهة مسجد به محراب قديم، فإنه يجب عليه أن يصلي إلى الجهة التي فيها ذلك المحراب
Artinya: “Apabila orang yang shalat berada di arah yang tidak diketahui kiblatnya, maka jika pada arah tersebut ada mesjid yang mempunyai mihrab masa dahulu, maka wajib atasnya untuk shalat ke arah yang dihadap mihrab tersebut”. [8]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah…, h.180.
فإن وجد في جهة ليس بها محاريب وكان يمكنه أن يتحرى جهة القبلة، فإنه يجب عليه أن يتحرى، ولا يسأل أحداً، الا إذا خفيت عليه علامات القبلة، وفي هذه الحالة يلزمه أن يسأل عن القبلة شخصاً مكلفاً عدلاً، عارفاً بأدلة القبلة، ولو كان أنثى أو عبداً. هذا إذا كان أهلاً للتحري وللاجتهاد، فإن لم يكن أهلاً لذلك، فإنه يجب عليه أن يسأل شخصاً مكلفاً عدلاً عارفاً بالقبلة، فإن لم يجد من يسأله فإنه يصلي إلى أي جهة يختارها وتصح صلاته
Artinya: “Maka jika seseorang tersebut berada di arah yang tidak ada mihrab masa lalu dan dia mungkin untuk mengetahui arah kiblat, maka wajib atasnya untuk ber-ijtihᾱd dan tidak bolh bertanya pada seorang pun kecuali tersembunyi tanda-tanda kiblat darinya. dan pada kondisi ini, sseorang tersebut wajib bertanya pada orang yang mukallaf lagi adil dan mengetahui tanda-tanda kiblat, sekalipun orang tersebut adalah perempuan dan hamba sahaya. Keadaan ini apabila orang tersebut adalah orang yang sanggup ber-ijtihᾱd, jika dia tidak sanggup ber-ijtihᾱd, maka wajib atasnya untuk bertanya pada orang lain yang mukallaf, adil dan mengetahui arah kiblat. Jika dia tidak mendapati orang tempat bertanya, maka dia harus shalat ke arah mana saja yang dia pilih dan sahlah shalatnya tersebut”. [9]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah…, h.180.
Dari uraian di atas dapat difahami bahwa dalam madzhab Maliki sebagaimana pula dalam madzhab Hanafi terkait kewajiban menghadap kiblat bagi orang yang jauh dari Ka’bah adalah hanya wajib menghadap arahnya saja, dengan cara berpedoman pada mihrab masa dahulu atau ber-ijtihᾱd sendiri mencari tanda-tanda arah kiblat atau dengan bertanya kepada orang lain yang mengerti arah kiblat.
c) Madzhab Syᾱfi’i
Sedangkan dalam madzhab Syᾱfi’i perihal menghadap kiblat bagi orang yang jauh dari Ka’bah adalah wajib menghadap ‘ain (fisik) Ka’bah, bukan arahnya. Pendapat ini hamper sama dengan pandangan dalam madzhab Hambali. Namun menurut Imam Hambali bila jauh dari Ka’bah yang wajib adalah menghadap arahnya saja. Sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni berikut:
فذهب الشافعية والحنابلة إلى أن الواجب استقبال عين الكعبة.
Artinya: “Ulama madzhab Syᾱfi’i dan Hambali berpendapat bahwa sesungguhnya yang wajib adalah menghadap ‘ain (fisik) Ka’bah”. [10]Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni, Rawai’ al-Bayan fi Tafsir Ayah al-Ahkam Cet.III, (Bairut: Maktabah al-Ghazali, 1980) h.124.
Pernyataan ini juga didukung oleh Syaikh Abdurrahman al-Jaziri dalam kitab Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah sebagai berikut:
الشافعية قالوا: يجب على من كان قريباً من الكعبة أو بعيداً عنها أن يستقبل عين الكعبة، أو هواءها المتصل بها، كما بيناه أعلى الصحيفة، ولكن يجب على القريب أن يستقبل عينها أو هواءها يقيناً بأن يراها أو يلمسها أو نحو ذلك مما يفيد اليقين، أما من كان بعيداً عنها فإنه يستقبل عينها ظناً لا جهتها على المعتمد
Artinya: “Ulama Syᾱfi’iyyah berpendapat; Wajib atas seseorang yang berada di dekat Ka’bah atau jauh dari Ka’bah untuk menghadap ‘ain (fisik) Ka’bah atau hawanya yang bersambung dengan ‘ain (fisik) Ka’bah tersebut sebagaimana yang telah kami nyatakan di bagian atas lembaran, akan tetapi bagi orang yang di dekat Ka’bah wajib menghadap ‘ain (fisik) Ka’bah tau hawanya dengan secara yakin dengan cara melihat langsung atau menyentuhnya atau dengan cara lain yang dpat meyakinkan. Sedangkan bagi orang yang jauh, maka wajib menghadap ‘ain (fisik) cukup dengan dzhan (dugaan kuat), bukan menghadap arahnya berdasarkan pendapatt kuat”. [11]Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah…, h.178.
Mkasud dari menghadap ‘ain Ka’bah adalah menghadap bangunan Ka’bah dan tempat yang setentang dengan bangunan Ka’bah, baik dari dasar bumi atau dari udara, berikut penjelasan dari Syaikh al-Syarwani:
والمراد بعينها جرمها أو هواؤها المحاذي إن لم يكن المصلي فيها
Artinya: “Maksud dari ‘ain Ka’bah adalah bangunannya atau di udara yang setentang dengannya, ini jika orang yang shalat tersebut bukan di dalamnya”. [12]Imam al-Syarwani, Hasyiyyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Jld. I, (Beirut: Dar Al-Fikr 2009), h.484.
Ada dua kondisi terkait menghadap kiblat yang akan memberikan konsekuensi hukum yang berbeda, hal ini dijelaskan oleh Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi sebagai beikut:
فإن كان بحضرة البيت لزمه التوجه إلى عينه... وإن لم يكن بحضرة البيت نظرت فإن عرف القبلة صلى إليها وإن أخبره من يقبل خبره عن علم قبل قوله ولا يجتهد …وإن رأى محاريب المسلمين في موضع صلى إليها ولا يجتهد لأن ذلك بمنزلة الخبر وإن لم يكن شيء من ذلك نظرت فإن كان ممن يعرف الدلائل فإن كان غائباً عن مكة اجتهد في طلب القبلة لأن له طريقاً إلى معرفتها بالشمس والقمر والجبال والرياح … فكان له أن يجتهد كالعالم في الحادثة .
Artinya: “Apabila ia berada di dalam bait (Masjidil Haram), maka wajib baginya menghadap ‘ain kiblat… Apabila ia tidak berada didalamnya, maka dilihat dulu, jika ia tahu letak kiblat, maka sholat menghadap arah tersebut, jika ada seorang terpercaya yang mengabarinya, maka terima kabar tersebut dan tidak perlu ber-ijtihᾱd lagi…jika ia melihat mihrab muslimin di suatu tempat, maka shalat menghadap ke arah mihrab tersebut dan tidak perlu ijtihᾱd, karena hal itu sama saja seperti sebuah kabar. Jika tidak ada sesuatu pun, maka dilihat dulu, jika ia adalah seseorang yang bisa menangkap pertanda, sedangkan kondisinya jauh dari Makkah, ia mesti berijtihᾱd mencari arah kiblat menggunakan metode bisa dari melihat matahari, bulan, bintang, atau arah angin bertiup…maka wajib baginya ber-ijtihᾱd sebagaimana orang alim ber-ijtihᾱd persoalan fiqh terbaru”. [13]Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syᾱfi’i , juz. I, (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), h.129.
Dari ta’bir di atas bisa dipahami bahwa jika seseorang berada di dalam Masjidil Haram, maka yang dihadap olehnya haruslah “benda” Ka’bah itu sendiri dengan secara yakin. Jika ia berada di luar Masjidil Haram, termasuk di Indonesia, maka menghadap fisik Ka’bah cukup dengan dzhan (dugaan kuat). Kendatipun ada sebagian ulama madzhab Syᾱfi’i yang membolehkan manghadap kiblat dengan arah Ka’bah saja, namun hal tersebut diluruskan oleh Syaikh Abdurrahman Ba’alawi, dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin yang berpendapat bahwa ketentuan bolehnya menghadap arah Ka’bah (jihatul ka’bah), itu bila seseorang tidak mengetahui tanda-tanda letak geografis persis dari fisik Ka’bah, berikut keterangan beliau:
مَحَلُّ اْلإِكْتِفَاءِ بِالْجِهَّةِ عَلَى الْقَوْلِ بِهِ عِنْدَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِأَدِلَّةِ الْعَيْنِ إِذِ الْقَادِرُ عَلَى الْعَيْنِ إِنْ فُرِضَ حُصُوْلُهُ بِاْلإِجْتِهَادِ لاَ يُجْزِيْهِ اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ قَطْعًا وَمَا حَمَلَ الْقَائِلِيْنَ بِالْجِهَّةِ ذَلِكَ إِلاَّ كَوْنُهُمْ رَأَوْا أَنَّ اسْتِقْبَالَ الْعَيْنِ بِاْلإِجْتِهَادِ مُتَعَذِّر
Artinya: “Ketentuan cukup menghadap arah (berdasarkan atas pendapat demikian) adalah saat tidak mengetahui tanda-tanda keberadaan fisik Ka’bah (a’inul Ka’bah). Karena orang yang mampu mengetahui Ka’bah bila diandaikan bisa dihasilkan dengan ber-ijtihᾱd, maka ia tidak cukup menghadap arah saja secara pasti (tanpa khilafiyyah). Tidak ada yang mendorong ulama yang membolehkan menghadap ke arah Ka’bah melainkan mereka memandang bahwa menghadap Ka’bah dengan berijtihᾱd itu sulit dilakukan”. [14]Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M), h. 39-40.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam madzhab Syᾱfi’i terkait perihal menghadap kiblat, menurut pendapat kuat yang wajib adalah menghadap ‘ain (fisik) Ka’bah, bukan arah Ka’bah. Bila orang tersebut jauh dari Ka’bah, maka dia harus mencari keberadaan ‘ain (fisik) Ka’bah dengan dzhan (dugaan kuat).
Jika ia tahu arah kiblat, maka sholat menghadap arah tersebut, jika ada seorang terpercaya yang mengabarinya, maka terima kabar tersebut dan tidak perlu ber-ijtihᾱd lag. Jika ia melihat mihrab muslimin di suatu tempat, maka shalat menghadap ke arah mihrab tersebut dan tidak perlu ijtihᾱd, karena hal itu sama saja seperti sebuah kabar. Jika tidak ada sesuatu pun dan ia adalah seseorang yang bisa menangkap pertanda, maka ia mesti ber-ijtihᾱd mencari arah kiblat menggunakan metode dari melihat matahari, bulan, bintang, atau arah angin bertiup, maka wajib baginya ber-ijtihᾱd sebagaimana orang alim ber-ijtihᾱd persoalan fiqh terbaru”.
d) Madzhab Hambali
Sebagaimana penjelasan di atas bahwa dalam madzhab Hambali wajib menghadap kiblat dengan menghadap ‘ain (fisik) Ka’bah langsung bagi orang yang dekat dengan Ka’bah, Namun bila jauh dari Ka’bah maka yang wajib hanya menghadap arahnya saja, berikut keterangan dari Syaikh Syihabuddin al-Qalyubi dalam Hasyiyyah-nya:
واعتبر الإمام مالك الجهة، والإمام أحمد اعتبر العين مع القرب والجهة مع البعد، واعتبر الإمام أبو حنيفة جزءا من قاعدة، مثلث زاويته العظمى عند ملتقى بصره
Artinya: “Imam Malik meng-i’tibar makna arah, sedangkan Imam Ahmad meng-i’tibar makana ‘ain bagi orang yang dekat dan makna arah bagi orang yang jauh. Adapun Imam Abu Hanifah meng-i’tibar makna juzuk (bagian) dari qaidah: “Tiga sudut Ka’bah adalah bagian terbesar yang tampak saat memandangnya”. [15]Ahmad ibn Ahmad Al-Qulyubi, Hasyiyyah Qulyubi wa ‘Amirah, jld.I, (Maktabah Syamilah Ar-raudah v.3.61, 2014), h.151.
Ibn Qudamah al-Maqdisi salah seorang ulama madzhab Hambali juga menyatakan hal yang sama dalam karya beliau sebagai berikut:
الثاني: من فرضه إصابة جهة الكعبة، وهو البعيد عنها فلا يلزمه إصابة العين، لقول النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «ما بين المشرق والمغرب قبلة»
Artinya: “Keadaan yang kedua adalah seseorang yang hanya wajib tepat menghadap arah Ka’bah, yaitu orang yang jauh dari Ka’bah. Maka tidak wajib baginya tepat menghadap ‘ain fisik Ka’bah, karena sabda Nabi saw; “Diantara timur dan barat adalah kiblat”. [16]Ibn al-Qudamah al-Maqdisi, Al-Kafi fi Fiqh Imam Ahmad, (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), h.234.
Dalam madzhab Hambali yang menjadi salah satu poin pandangan yang berbeda dari madzhab yang lain terkait masalah kiblat menjadikan syadzarwan (pondasi Ka’bah) atau bagian loteng Ka’bah menjadi bagian dari Ka’bah. Demikian penjelasannya:
الحنابلة قالوا: إن الشاذروان وستة أذرع من الحجر وبعض ذراع فوق ذلك من الكعبة، فمن استقبل شيئاً من ذلك صحت صلاته .
Artinya: “Ulama madzhab Hambali berpendapat bahwa sesungguhnya syadzarwan (pondasi Ka’bah), enam hasta hajar aswad dan sebagian hasta di atasnya. Maka siapa saja yang menghadap satu bagian dari demikian, shalatnya dianggap sah”. [17]Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syᾱfi’i , juz. I, (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), h.129.
Dari penjelasan ini dapat difahami bahwa pandangan madzhab Hambali hampir sama dengan pandangan dalam madzhab Syafi’iyyah terkait kewajiban menghadap kiblat dalam shalat, yaitu wajib menghadap ‘ain Ka’bah bila dekat dengan Ka’bah, namun bila jauh dari Ka’bah menurut madzhab Hambali hanya wajib menghadap arah saja.
Semoga bermanfaat!!
Posting Komentar