Pengertian Uqubat (Sanksi Hukuman) dan Hikmah menegakkannya - Kitabkuning90

Daftar Isi
Kitabkuning90.blogspot.com
Ilustrasi hukuman kejahatan

Sanksi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai tanggungan (tindakan, hukuman, dan sebagainya) untuk memaksa orang menepati perjanjian atau imbalan negatif, berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan dalam hukum.[1] Sedangkan dalam Islam, sanksi diistilahkan dengan uqūbah atau ‘iqāb. Di dalam kamus Mu’jam al-Ma’ānī dijelaskan:

العقوبة والعقاب بمعنى واحد وهى الجزاء وهى رد الفعل للجريمة المرتكبة وهى جزاء يقرره القانون ويختص القاضى بتوقيعه بمقتضى حكم صادر من محكمة مختصة على شخص مسئول عن جريمة معينة[2]

“Uqūbah dan ‘iqāb adalah satu makna, yaitu sanksi atau konsekuensi. Uqūbah adalah balasan perbuatan atas kejahatan yang dilakukan. Uqūbah adalah sanksi yang ditetapkan oleh hukum dan terkhusus hakim yang dapat menjatuhkannya berdasarkan putusan yang dikeluarkan oleh pengadilan yang berwenang terhadap seseorang yang bertanggung jawab atas kejahatan tertentu”.

Pemberlakuan sanksi hukuman atau uqūbah dalam fiqh jināyah mempunyai tujuan yang sangat penting. Dimana dengan adanya uqūbah tersebut dapat memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan sehingga tidak akan berani mengulanginya kembali. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ali Ahmad al-Jarjawi sebagai berikut:

وضعت الحدود وضعا شرعيا كافلا لراحة البشر فی كل زمان و مكان حتی تمتنع الجرائم الّتی ترتكب و كلّ فعل يحدث فی الارض فسادا لا يمكن اصلاح هذا الّا بالعقوبة[3]

“Ditetapkan had-had sebagai ketetapan syara’ yang memenuhi bagi kenyamanan manusia pada setiap masa dan tempat, sehingga tertegah semua perbuatan kriminal yang terjadi. Tiap-tiap perbuatan yang menimbulkan kerusakan di dunia tidak akan dapat diatasi melainkan dengan ditetapkan sanksi hukuman”.

Hal ini senada dengan keterangan dari Said Abu Bakr al-Dimyati dalam Hāsyiyyah I’ānah Al-Thālibin sebagai berikut:

وشرعت حفظا للكليات الستة المنظومة في قول اللقاني: وحفظ دين ثم نفس مال نسب ومثلها عقل وعرض قد وجب فشرع القصاص حفظا للنفس وقتل الردة حفظا للدين، وقد تقدمك وحد الزنا حفظا للنسب، وحد القذف حفظا للعرض، وحد السرقة حفظا للمال، وحد الشرب حفظا للعقل[4]

“Disyariatkan hudūd tersebut untuk menjaga kulliyyah yang lima yang di-nadzam-kan dalam perkataan Ibrahim Al-Laqani: Dan menjaga agama, harta, keturunan, aqal dan martabat adalah wajib. Maka disyari’atkan qishāsh karna menjaga nyawa, dan membunuh orang murtad karna memelihara agama padahal sudah pernah terjadi demikian dihadapan engkau, dan had zina untuk menjaga keturunan, dan had tuduh untuk menjaga martabat, dan had pencurian karna menjaga harta, dan had minum khamar untuk menjaga akal”.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa hikmah utama dari disyariatkannya hukuman atau sanksi dalam kasus jināyah adalah untuk menjaga kulliyyah yang lima atau maqashid al-syariah yang lima, yaitu menjaga agama seseorang, nyawanya, hartanya, martabat dan keturunannya serta akalnya. Tingkat beratnya sebuah saksi hukuman disesuaikan dengan seberapa beratnya tingkat kejahatan yang dilakukan. Hal ini senada dengan keterangan Wahbah al-Zuhaili:

إن الجرائم الخطيرة لا يفلح في صدها ومقاومة أخطارها إلا عقوبات شديدة فعالة، فاسم العقوبة مشتق من العقاب، ولا يكون العقاب عقابا إذا كان موسوما بالرخاوة والضعف. والعقاب الناجح هو ذلك الذي ينتصر على الجريمة، وليس ذلك الذي تنتصر عليه الجريمة. ثم إن المشرعين الوضعيين لم يستغلظوا عقوبة الإعدام بالنسبة إلى بعض الجرائم الخطيرة، وما من شك في أن هذه العقوبة أشد من عقوبة القطع في السرقة والحرابة، فالعبرة إذن بالعقوبة المناسبة والفعالة في مقاومة الجريمة. [5]

“Kejahatan serius tidak dapat dicegah dan bahayanya tidak dapat diatasi kecuali dengan hukuman yang berat dan efektif. Nama uqūbah berasal dari ‘iqāb, dan hukuman bukanlah hukuman jika ditandai dengan kelonggaran dan kelemahan. Hukuman yang berhasil adalah hukuman yang mengalahkan kejahatan, bukan hukuman yang dikalahkan oleh kejahatan. Selain itu, para pembuat undang-undang yang berpikiran positif belum memperberat hukuman mati untuk beberapa kejahatan serius, dan tidak diragukan lagi bahwa hukuman ini lebih berat dari pada hukuman potong tangan untuk pencurian dan perampokan di jalan raya. Oleh karena itu, yang terpenting adalah hukuman yang tepat dan efektif dalam mencegah kejahatan”.

Sebuah uqūbah atau ‘iqāb tidak dapat disebut senbagai hukuman jika masih menyisakan sisi kelonggaran dan kelemahan di dalamnya, dalam arti kata hukuman tersebut tidak dapat memberikan efek jera dari perbuatan kriminal yang dilakukan. Oleh karena itu uqūbah harus disesuaikan dengan tingkat kejahatan yang terjadi dan hakim harus dapat menyesuaikannya dengan kondisi pelaku tersebut agar dapat efektif dalam mencegah kejahatan.

Referensi:
[1]Kemdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online…, diakses pada 15 Mei 2026.
[2]Almaany, Terjemahan dan Arti عقوبة di Kamus Istilah Semua Indonesia Arab, diakses melalui https://www.almaany. com/id/dict/ar-id/ %D8%B9%D9%82%D9% 88%D8%A8%D8%A9/ #google_vignette pada 15 Mei 2026.
[3]Ali Ahmad al-Jarjawi, Hikmah al-Tasyri’ wa falsafatuh, cet.II, Jld.II, (Beirut: Dar al-Fikri, 2003), h. 174.
[4]Al-Said Abu Bakr Al-Dimyati, Hāsyiyyah I’ānah Al-Thālibin, Jld.IV (Maktabah Syamilah Ar-raudah v.3.61, 2014), h. 1611.
[5]Wahbah al-Zuhailī, Fiqh al-Islᾱm wa Adillatuh, Jld.VII, (Beirut: Dār al-Fikri, tt.), h. 5278. 

Posting Komentar