Kupas Tuntas, Solusi Hukum Zakat Untuk Mesjid - Kitabkuning90

Daftar Isi
Penyaluran zakat untuk mesjid harus memerhatikan syarat dan rukun zakat itu sendiri, termasuk hak mustahik yang dimaksud dari penyerahan zakat itu. Apakah mesjid sah menjadi mustahik zakat dan siapa yang menerima zakat untuk mesjid?.

Salah satu syarat sah dalam pendistribusian zakat kepada mustahiq adalah adanya penyerahan kepemilikan (tamlīk) saat penyaluran zakat. Sebagaimana penjelasan berikut:

و التمليك، يشترط التمليك لصحة أداء الزكاة بأن تعطى للمستحقين، فلا يكفي فيها الإباحة أو الإطعام إلا بطريق التمليك[1]

“Syarat kedua adalah penyerahan kepemilikan (tamlīk). Disyaratkan tamlīk untuk sah menunaikan zakat dengan cara memberinya kepada mustahiq. Maka tidak cukup dengan sekedar membolehkan atau dengan memberi makanan, kecuali dengan jalan tamlīk”.

Tamlīk menjadi syarat sahnya pelaksanaan zakat dengan cara harta zakat diserahkan kepada mustahiq, wakil, atau pengelola zakat/’āmil, walaupun orang yang menerima harta zakat tersebut tidak mengetahui yang bahwa itu adalah harta zakat. Sebagaimana penjelasan dari Ibn Hajar al-Haitamī dalam kitab Tuhfah al-Muhtāj berikut:

يجوز دفعها لمن لم يعلم أنها زكاة، لأن العبرة بنية المالك محله عند عدم الصارف من الأخذ أما معه كأن قصد بالأخذ جهة أخرى فلا[2]

“Para ulama berpendapat boleh menyerahkan zakat kepada orang yang tidak tahu bahwa itu sesungguhnya adalah zakat, karena yang ditinjau adalah niat dari pemilik harta. Kedudukan hukum ini di saat tidak ada maksud lain yang memalingkan dari niat mengambil. Jika disertai adanya maksud lain seperti mengambil karena tujuan lain, maka tidak boleh”.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa dalam pembayaran zakat hal yang terpenting adalah adanya kejelasan niat dan penyerahan (tamlīk) dari sisi muzaki saja, baik beserta diketahui oleh penerima zakat atau tanpa diketahui. Syarat tamlīk ini juga penulis pahami dari redaksi yang dinyatakan Imam al-Syairazi dalam kitab Al-Muhazzab fī Fiqh al-Imām al-Syāfi’ī berikut:

والدليل عليه قوله تعالى: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ} [التوبة:60] فأضاف جميع الصدقات إليهم بلام التمليك وأشرك بينهم بواو التشريك فدل على أنه مملوك لهم مشترك بينهم[3]

"Dalil atas hal demikian adalah firman Allah ta'ala: “Zakat hanya diberikan untuk orang fakir, miskin, pengelola zakat, orang-orang yang dibujuk hati mereka, hamba saya, orang berhutang, fī sabīlillāh dan orang dalam perjalanan”, surat at-Taubah ayat 60 disandarkan semua zakat kepada mereka dengan huruf lam yang menunjukkan makna kepemilikan dan berserikat mereka dengan huruf wau yang menunjukkan makna berserikat, sehingga hal demikian menunjukkan di atas bahwa zakat adalah sesuatu yang dapat dimiliki mereka serta berserikat diantara mereka".

Keterangan ini menunjukkan akan sebuah ketentuan dalam pendistribusian harta zakat di mana pemberian harta zakat merupakan penyerahan kepemilikan suatu harta kepada mustahiq zakat, sehingga secara tidak langsung menunjukkan bahwa penerima zakat haruslah orang yang ahliyah (layak) untuk memiliki, dalam arti kata mustahik zakat haruslah seorang mukalaf. Penyaluran zakat tersebut pula harus memenuhi standarisasi tamlīk yang ditetapkan dalam fiqh, diantaranya terjadi serah terima yang menunjukkan akan perpindahan kepemilikan barang kepada orang lain, baik itu secara hakiki maupun secara hukmi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam keterangan berikut:

القبض في المعاملات إما حقيقي وإما حكمي: أما القبض الحقيقي فيتم بنحو حسي ملموس بالأخذ باليد، أو الكيل، أو الوزن في الطعام، أو النقل والتحويل إلى حوزة القابض وأما القبض الحكمي فهو كل ما تتحقق به الحيازة والتمكن من التصرف، بحسب العرف السائد، من غير تناول باليد أو قبض حسي[4]

“Qabadh (serah terima) dalam transaksi, adakalanya haqiqi  dan adakalanya hukmi. Qabadh al-haqiqi adalah sempurnanya perpindahan kepemilikan barang melalui jalan menyentuh, menerima dengan tangan, menakar, menimbang suatu makanan, memindah atau membawa kepada penguasaan penerima. Sementara qabadh al-hukmi adalah segala sesuatu yang menyatakan terjadinya perpindahan hak milik atau hak kelola harta menurut ‘urf yang berlaku tanpa keterlibatan unsur tangan atau menerima secara sentuhan”.

Berdasarkan keterangan ini dapat disimpulkan bahwa konsep penyaluran zakat dalam fiqh Syāfi'iyyah mensyaratkan adanya tamlīk. Dalam hal ini, perpindahan kepemilikan (tamlīk) disyaratkan harus dilakukan oleh orang yang ahliyah (layak), adanya serah terima yang memenuhi standar menurut fiqh, baik itu secara hakiki, seperti menyerahkan langsung dengan tangan atau dengan memindahkan barang, ataupun secara hukmi yaitu tamlīk (perpindahan kepemilikan) yang dilakukan tidak secara langsung antara dua orang yang sedang serah terima, namun dengan cara yang sudah diakui oleh tradisi zaman. Dari sini dapat dipahami bahwa zakat yang disalurkan langsung untuk masjid tidak dapat dibenarkan, karena masjid bukanlah mukallaf atau makhluk hidup yang memiliki sifat tamlīk (dapat memiliki), melainkan masjid adalah sebuah bangunan mati yang tidak memiliki sifat tamlīk. Sebagaimana keterangan Sayyid 'Abdur Rahman al-Ba'alawī berikut:

لا يستحق المسجد شيأ من الزكاة مطلقا اذلا يجوز صرفها الا لحر مسلم[5] 

“Masjid tidak berhak mendapatkan zakat secara mutlak, karena zakat hanya boleh diberikan pada orang merdeka yang Muslim”.

Bahkan empat imam mazhab, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal sepakat menyatakan bahwa zakat tidak boleh disalurkan untuk pembangunan masjid. Berikut keterangannya:

إِتَّفَقَ الْأَئِمَّةُ الْأَرْبَعَةُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ إِخْرَاجُ الزَّكَاةِ لِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَوْ تَكْفِينِ مَيِّتٍ [6]

“Imam empat madzhab telah sepakat bahwa tidak boleh mendistribusikan zakat untuk pembangunan masjid atau mengafani orang mati”.

Namun salah seorang ulama Mazhab Syafi'i Abu Yahya Zakariya al-Anṣᾱrī di dalam kitab Asnā al-Mathālib fī Syarh Raudh al-Thālib memberikan solusi cara penyaluran zakat untuk pembangunan masjid, yaitu dapat diberikan atas nama hak ghārim (orang yang berhutang), dengan cara seseorang berhutang atas nama pribadinya sendiri untuk kemaslahatan pembangunan masjid, kemudian utang orang tersebut dapat ditembus dengan harta zakat atas nama hak ghārim (orang yang berhutang). Berikut keterangannya:

 (وفي إقراء) الوجه قول أصله وفي قرى (الضيف وعمارة المسجد) وبناء القنطرة وفك الأسير ونحوها من المصالح العامة (يعطى) المستدين لها (من الزكاة عند العجز عن النقد) [7]

"Dan utang untuk memuliakan (satu pandangan pendapat asalnya -dan utang pada memuliakan-) tamu atau membangun masjid atau membangun jembatan dan menebus tawanan dan seumpamanya dari segala macam kemaslahatan umum, maka diberikan orang-orang yang berhutang untuk hal demikian dari zakat di ketika lemah dari mata uang".

Berdasarkan keterangan ini menunjukkan bahwa penyaluran harta zakat untuk pembangunan masjid bila di berikan atas nama fī sabīlillāh yang disalurkan langsung kepada masjid tidak dapat dibenarkan, karena hak fī sabīlillāh hanya terkhusus untuk tentara perang yang berjuang di jalan Allah dan tidak tercantum namanya dalam daftar tentara pemerintahan yang mendapat hak dari harta fai', disamping itu pula masjid tidak memenuhi syarat sebagai mustahiq yang memiliki sifat tamlīk (dapat memiliki), karena masjid merupakan bangunan mati yang tidak dapat menerima kepemilikan. Namun terdapat solusi untuk menyalurkan harta zakat untuk pembangunan masjid yaitu atas nama Hak Ghārim dengan cara seseorang berhutang atas nama terjadinya sendiri untuk kepentingan pembangunan masjid kemudian Hutang orang tersebut dapat ditembus dengan harta zakat atas nama ghārim (orang yang berhutang), karena telah memenuhi syarat ghārim (orang yang berhutang), yaitu berhutang untuk kemaslahatan umum dan pembangunan masjid merupakan salah satu kemaslahatan umum.

Referensi:
[1]Wahbah al-Zuhailī, Al-Fiqh al-Islām wa Adillatuh…, h. 1811.
[2]Ahmad ibn Hajar al-Haitamī, Tuhfah al-Muhtāj fī Syarh al-Minhāj, Jld. III, (Beirut: Dar Al-Fikr, 2009), h. 242.
[3]Abu Ishaq Ibrahim Ibn Ali al-Syairazī, Al-Muhazzab fī Fiqh al-Imām al-Syāfi’ī…, h. 313.
[4]Wahbah Al-Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuhu, Jld. IV, (Beirut: Dār al-Kutūb al-Ilmiyah, t.t), h. 242
[5]Sayyid 'Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Husain ibn Umar al-Ba'alawī, Bughiyah al-Mustarsyidīn, (Kairo: al-Masyahad al-Husaini, 1902), h. 106.
[6]Abdul Wahhab al-Sya’rani, Al-Mizanul Kubra, Jld. II, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, t.t), h. 13.
[7]Abu Yahya Zakariya al-Anṣᾱrī, Asnā al-Mathālib fī Syarh Raudh al-Thālib, Juz. I, (Beirut: Darul Fikr, 1991), h. 398.

Berbagi ilmu dan hikmah serupakan iinvestasi terbesar dunia dan akhirat..!!

Posting Komentar