Jangan salah Bayar Zakat, Ini dia 8 golongan Mustahiq zakat yang Benar - Kitabkuning90

Daftar Isi
Kitabkuning90

8 Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat

Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy dalam kitab  Tuhfah al-Thullab Syarh Tanqih al-Lubab memberikan penjelasan terkait beberapa golongan mustaḥiq zakat (oang-orang yang berhak menerima zakat), sebagai berikut:

 هي للثمانية المذكورة في آية : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمَؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ([1]

Artinya: “Segala zakat diberikan bagi delapan orang yang disebutkan pada ayat: Sesungguhnya zakat itu diperuntukkan bagi orang-orang fakir dan orang- orang miskin dan para amil dan orang yang dibujuk hatinya, dan pada budak mukatab dan orang-orang yang berutang, dan pada sabilillah dan ibnu sabil”.

Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī dalam karya beliau kitab Al-Jāmi‘ li aḥkām Al-Qur’ān juga memberikan penjelasan terkait beberapa golongan mustaḥiq zakat dan penafsiran tentang mustaḥiq zakat tersebut bedasarkan surat At-Taubah ayat 60 sebagai berikut:

قوله تعالى: (إنما الصدقات للفقراء) خص الله سبحانه بعض الناس بالأموال دون بعض نعمة منه عليهم، وجعل شكر ذلك منهم إخراج سهم يؤدونه إلى من لا مال له، نيابة عنه[2]

Artinya: “Firman Allah ta’ālā: (Hanyasanya sedekah untuk orang fakir), Allah SWT mengkhususkan sebagain manusia dengan harta sebagai nikmat dari Allah atas mereka. Dan Allah menjadikan syukur mereka atas nikmat tersebut sebagai mengeluarkan bagian yang mereka berikan kepada orang yang tidak mempunyai harta sebagai gantinya”.

Terkait memahami makna dari masing-masing mustaḥiq zakat yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, banyak terjadi perselisihan antara para ulama, diantaraya dalam memahami makna fakir dan miskin sebagaimana yang dijelaskan Imam al-Qurṭūbī berikut:

واختلف علماء اللغة وأهل الفقه في الفرق بين الفقير والمسكين على تسعة أقوال: فذهب يعقوب بن السكيت والقتبي ويونس بن حبيب إلى أن الفقير أحسن حالا من المسكين. قالوا: الفقير هو الذي له بعض ما يكفيه ويقيمه، والمسكين الذي لا شي له،[3]

Artinya: “Firman Allah ta’ālā: Ulama ahli bahasa dan ahli fiqih berselisih pendapat pada membedakan orang fakir dan orang miskin dalam sembilan perkataan: Yakub bin Al-Sakeet, Al-Qatabi dan Yunus bin Habib mengatakan bahwa orang fakir lebih baik dari pada orang miskin. Mereka berkata: Orang fakir adalah orang yang memiliki sebagian dari apa yang cukup untuknya dan memeliharanya, dan orang miskin adalah orang yang tidak memiliki apa-apa”.

Berdasarkan keterangan dalam pendapat ini, orang fakir adalah orang yang memiliki sebagian harta dari apa yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya, dan orang miskin adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Namun berbeda dengan pandangan mazhab Syāfi‘i.

Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy juga memberikan penjelasan terkait makna dari mustahiq zakat faqir dan miskin, sebagai berikut:

والفقير : من لا مال له ولا كسب يقع موقعا من كفايته، ولا يمنع الفقر : مسكنه وثيابه، وعبده الذي يحتاجه لخدمته، وماله الغائب بمرحلتين والمؤجل؛ وكسب لا يليق به. [4]

Artinya: “Fakir adalah orang yang tidak ada harta disisinya dan tidak ada usaha yang mencukupi kebutuhannya. Dan tidak mencegah kefakiran oleh tempat tinggalnya dan oleh pakaiannya dan oleh hamba sahaya yang ia berhajat kepadanya untuk pelayanannya, dan juga tidak mencegah kefakiran oleh hartanya yang jauh dengan dua marhalah, dan oleh hutang yang muajjal dan oleh usaha yang tidak layak dengannya.

والمسكين : من قدر على مال أو كسب يقع موقعا من كفايته، ولا يكفيه. [5]

Artinya: “Miskin adalah orang yang punya kesanggupan atas harta atau usaha yang hampir mencukupi kebutuhannya, namun tidak mencukupinya”.

Berdasarkan keterangan tersebut, orang fakir adalah orang yang tidak ada harta disisinya dan tidak ada usaha yang mencukupi kebutuhannya. Sedangkan miskin adalah orang yang punya kesanggupan harta atau usaha yang hampir mencukupi kebutuhannya namun tidak mencukupinya.

Kemudian keterangan Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy selanjutnya terkait memaknai dari mustahiq zakat yang lainnya adalah sebagai berikut:

والعامل : كساع وكاتب؛ وحاشر؛ وقاسم، وحاسب، وحافظ للأموال. والمؤلفة : من أسلم ونيته ضعيفة أو له شرف يتوقع بإعطائه إسلام غيره، أو متألف على مانعي الزكاة أو أعادينا. والرقاب : المكاتبون كتابة صحيحة. [6]

Artinya: “Amil seperti sa'i dan katib dan hasyir dan hasib dan hafiz (orang yang menjaga) bagi segala harta zakat. Muallaf ada empat macam: 1) Orang yang masuk islam sedangkan niatnya masih lemah, 2) Orang yang masuk islam dan imannya kuat, tetapi ia mempunyai kemuliaan yang diharapkan dengan memberikan zakat kepadanya akan islam orang selainnya, 3) Orang muslim yang condong hatinya atas memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. 4) Orang muslim yang condong hatinya atas memerangi musuh-musuh kita. Riqab adalah para budak yang dikitabahkan sebagai kitabah yang shahih.

Adapun yang dimaksud dengan ghārim adalah:

والغارمون ثلاثة أضرب : غارم لإصلاح ولو غانيا. وغارم لنفسه لمباح إن أعسر، وغارم للضمان إن أعسر مع المدين؛ أو هو وحده، وقد ضمن بغير إذن. وفي سبيل الله : غزاة لا فيء لهم ولو أغنياء. وإبن السبيل : منشيء سفر؛ أو مجتاز؛ وشرطه الحاجة، وعدم المعصية بسفره. [7]

Artinya: “Gharimin ada tiga macam: 1) Orang yang berutang untuk mendamaikan, walaupun dalam keadaan kaya, 2) Orang yang berutang bagi dirinya sendiri untuk perkara mubah, jika ia miskin, 3) Orang yang berutang untuk menanggung hutang orang lain, jika ia miskin beserta orang yang berutang, atau ia sendiri yang miskin sedangkan ia menanggung hutang orang lain dengan tanpa seizinnya. Dan Sabilillah adalah para pasukan perang yang tidak mendapatkan harta fa'i, walaupun dalam keadaan kaya. Dan Ibnu sabil adalah orang yang memulai safar atau orang yang bermusafir yang melewati balad zakat. Syarat ibnu sabil; berhajat, dan tidak maksiat dengan safarnya.

Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī juga memberikan penjelasan terkait memaknai dari mustahiq zakat yang lainnya dalam karya beliau sebagai berikut:

ودل قوله تعالى:" والعاملين عليها" على أن كل ما كان من فروض الكفايات كالساعي والكاتب والقسام والعاشر وغيرهم فالقائم به يجوز له أخذ الأجرة عليه. [8]

Artinya: “Firman Allah ta’ālā: (Dan orang-orang yang mengerjakannya), menunjukkan bahwa semua tugas farḍu kifāyah seperti kurir, juru tulis, orang yang mengumpulkan, orang yang membagi harta dan lain-lain, maka orang yang melakukannya dapat mengambil upah untuk itu”.

Yang dimaksud dengan ‘āmil dalam mustaḥiq zakat adalah orang-orang yang bertugas dalam pengelolaan harta zakat, seperti kurir, juru tulis, orang yang mengumpulkan, orang yang membagi harta dan lain-lain, maka orang yang melakukannya dapat mengambil hak zakat untuk itu. Kemudian Imam al-Qurṭūbī juga memberikan pandangan tentang makna dari muallaf dalam mustaḥiq zakat sebagai berikut:

قوله تعالى: لا ذكر للمؤلفة قلوبهم في التنزيل في غير قسم الصدقات، وهم قوم كانوا في صدر الإسلام ممن يظهر الإسلام، يتألفون بدفع سهم من الصدقة إليهم لضعف يقينهم. قال الزهري: المؤلفة من أسلم من يهودي أو نصراني وإن كان غنيا. [9]

Artinya: “Tidak disebutkan muallaf selain pada pembagian zakat. Muallaf adalah suatu kaum yang ada pada masa awal Islam dari orang-orang yang muncul dalam Islam. Mereka diberi kedamaian dengan diberikan bagian dari zakat karena masih memiliki keyakinan yang lemah. Zuhri berkata: Muallaf adalah orang yang masuk Islam dari Yahudi atau Nasrani walaupun ia orang kaya”.

Muallaf menurut Imam al-Qurṭūbī adalah orang yang baru masuk Islam yang ada pada masa Rasulullah dahulu. Sedangkan makna riqāb:

قوله تعالى: (وفي الرقاب) أي في فك الرقاب، قاله ابن عباس وابن عمر، وهو مذهب مالك وغيره. فيجوز للإمام أن يشتري رقابا من مال الصدقة يعتقها عن المسلمين، ويكون ولاؤهم لجماعة المسلمين. وإن اشتراهم صاحب الزكاة وأعتقهم جاز. [10]

Artinya: “Firman Allah ta’ālā: (Dan budak-budak) yaitu dalam membebaskan budak, ini dikatakan oleh Ibn Abbas dan Ibn Umar, dan itu adalah pendapat Malik dan lainnya. Dibolehkan bagi imam untuk membeli budak dari uang zakat dan ia memerdekakannya, dan kesetiaan mereka kepada umat Islam. Dan jika pemilik zakat membeli dan membebaskannya, maka diperbolehkan”.

Dapat dipahami dari penjelasan ini, bahwa yang dimaksud dengan riqāb dalam mustaḥiq zakat adalah hak zakt yang dipakai dalam membebaskan budak. Sedangkan yang dimaksud dengan gārimīn (orang yang berhutang) dalam mustaḥiq zakat yaitu:

قوله تعالى: (والغارمين) هم الذين ركبهم الدين ولا وفاء عندهم به، ولا خلاف فيه. ويعطى منها من له مال وعليه دين محيط به ما يقضي به دينه، فإن لم يكن له مال وعليه دين فهو فقير وغارم فيعطى بالوصفين. [11]

Artinya: “Firman Allah ta’ālā: (Dan orang-orang yang berutang). Mereka adalah orang-orang yang dibebani hutang, dan mereka tidak memenuhinya, dan tidak ada perselisihan tentangnya. Dan zakat diberikan juga kepada orang yang memiliki harta dan ia juga memiliki hutang. Jika ia tidak memiliki harta dan ia memiliki hutang, maka ia termasuk orang fakir dan orang yang berhutang, maka ia diberikan dengan dua sifat”.

Gārim (orang yang berhutang) dalam mustaḥiq zakat yang dimaksud adalah orang-orang yang dibebani hutang dan mereka tidak mampu melunasinya. Adapun yang dimaksud fī sabīlillāh adalah:

قوله تعالى: (وفي سبيل الله) وهم الغزاة وموضع الرباط، يعطون ما ينفقون في غزوهم كانوا أغنياء أو فقراء. وهذا قول أكثر العلماء[12]

Artinya: “Firman Allah ta’ālā: (Dan dijalan Allah). Mereka adalah  tentara perang, dan tempat penjagaan, mereka diberi apa yang mereka nafkahkan dalam perang mereka, baik mereka itu kaya atau miskin. Inilah pendapat dari kebanyakan ulama”.

Sedangkan menurut Imam al-Qurṭūbī dari mazhab Mālikī, yang dimaksud dengan fī sabīlillāh dalam mustaḥiq zakat adalah tentara perang atau orang-orang yang berperang melawan kaum kafir di medan perang, mereka diberi hak zakat sesuai dengan kadar harta yang telah mereka belanjakan dalam peperangan mereka, baik mereka kaya atau miskin. Sedangkan yang dimaksud dengan ibnu sabīl dalam mustaḥiq zakat adalah orang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya atau terhambat pembiayaan dari negerinya, maka ia diberikan zakat sekalipun ia orang kaya dalam negerinya.

[1]Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy, Tuhfah al-Thullab Syarh Tanqih al-Lubab, jld. I, (Jeddah: al-Haramain, t.t), h. 388
[2]Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī, Al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an, Jld. VIII, (Cairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, t.t), h. 167.
[3]Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī, Al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an…, h. 169
[4]Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy, Tuhfah al-Thullab Syarh Tanqih al-Lubab, jld. I, (Jeddah: al-Haramain, t.t), h. 388-389
[5]Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy, Tuhfah al-Thullab…, h. 389
[6]Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy, Tuhfah al-Thullab…, h. 390

[7]Syaikh al-Islam Zakaria al-Anshariy, Tuhfah al-Thullab Syarh Tanqih al-Lubab, jld. I, (Jeddah: al-Haramain, t.t), h. 391
[8]Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī, Al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an…, h. 178
[9]Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī, Al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an…, h. 178
[10]Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī, Al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an…, h. 182.
[11]Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī, Al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an…, h. 183.
[12]Muhammad ibn Ahmad Al-Qurṭūbī, Al-Jami’ li ahkam Al-Qur’an…, h. 185.

Posting Komentar