Hukum bertayamum dengan Debu di Pesawat - Kitabkuning90

Daftar Isi
Tayamum merupakan salah satu cara untuk menyucikan diri dari hadas kecil dan hadts besar tatkala tidak ditemukan air yang dapat digunakan untuk wudhu’ atau ditemukan air tapi tidak dapat digunakan oleh seseorang karena adanya uzur. Ulama mazhab syafi’i mensyaratkan sah tayamum harus dengan debu berdasarkan surat An-Nisa' ayat 43 dari dua sisi istidlāl. Sebagaimana penjelasan berikut:

واحتج الشافعي من جهتين: الأول أن الله تعالى أوجب كون الصعيد طيباً، والأرض الطيبة هي التي تُنبت، بدليل قوله تعالى: {والبلد الطيب يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ} [الأعراف: 58] فوجب في التي لا تنبت أن لا تكون طيبة.[2]

Artinya: “Ulama Mazhab Syafi'i berhujah dari dua sisi; yang pertama bahwa sungguh Allah ta'ala mewajibkan keadaan tanah adalah yang baik dan tanah yang baik adalah tanah yang dapat menumbuhkan tanaman, berdasarkan dalil firman Allah; “negeri yang baik adalah yang dapat mengeluarkan tanaman-tanamannya dengan izin Tuhannya”, (Al A'raf ayat 58), maka mestilah tanah yang tidak dapat menumbuhkan tanaman merupakan tanah yang tidak baik”.

Adapun sisi yang kedua sebagai jalur istidlāl mazhab Syāfi’i dalam mensyaratkan debu dalam tayamum adalah sebagaimana keterangan berikut:

والثاني: أن الآية مطلقة هنا، ومقيدة في سورة المائدة بكلمة (منه) في قوله تعالى: {فامسحوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِّنْهُ} [المائدة: 6] وكلمة (من) للتبعيض، وهذا لا يتأتى في الصخر الذي لا تراب عليه فوجب ألا يصح التيمم إلا بالتراب.[3]

Artinya: “Sisi hujah yang kedua bahwa sungguh ayat disebutkan secara mutlak disini dan disebutkan secara muqayyad dalam surat al-Maidah dengan kalimat minhu dalam firman Allah ta'ala; “maka sapulah wajah kalian dan tangan kalian dari padanya”, (Al-Maidah ayat 6). Sedangkan kalimat min berfaedah tab’idh dan pemahaman sebagian dari tanah disini tidak mungkin tertuju pada batu yang tidak disebutkan tanah sama sekali, maka mestilah bahwa tidak sah tayamum kecuali dengan tanah”.

Menurut mazhab Syafi’i, tayamum hanya sah dengan menggunakan debu  dan disyaratkan harus debu yang dapat berhambur (lahu ghubār) yang dapat melekat pada wajah dan tangan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh  al-Nawawi dalam kitab Syarh al-Muhadzdzab berikut:

أمّا حكم المَسْألة فمذهبنا أنّه لا يصح التيمّم إلاّ بتراب هذا هو المعروف فيْ المذهب وبه قطع الأصحاب وتظاهرت عليْه نصوص الشّافعيّ، وحكى الرّافعي عن ابن عبد الله الْحناطي بالْحاءِ المُهملة والنّون أنه حكى في جواز التَيمّم بالذريرة والنّورة والزرنيخِ والأحجار المدقوقة والقواريْر المسحوقة وأشباهها قولين للشّافعي وهذا نقل غريب ضعيف شاذ مردود وإنّما أذكره للتنبيه عليْه لئلاّ يغترّ به والصّحيح في المذهب أنّه لا يجوز إلاّ بتراب[4]

Artinya: “Sedangkan hukum permasalahannya, maka menurut mazhab kami, tidak sah bertayamum kecuali dengan debu. Pendapat ini adalah yang populer di mazhab kami dan telah ditetapkan oleh para Ashhāb, serta yang tampak jelas pada nash-nash  Syāfi’i.  al-Rafi’i pernah menghikayatkan dari Ibn Abdillah al-Hanathi, dengan huruf حَاءْ tanpa titik dan نُونْ, bahwa beliau menghikayatkan kebolehan tayamum dengan dzarirah (bedak pewangi), kapur, batu zirnikh (warangan), batu yang ditumbuk halus, botol kaca yang ditumbuk halus dan semisalnya, dalam benda-benda itu terdapat dua pendapat  Syāfi’i. Pengutipan riwayat ini adalah pengutipan yang asing, lemah, syadz (tidak sesuai kaidah), dan tertolak. Saya menyebutkannya untuk mengingatkan agar tidak tertipu dengannya. Dan pendapat yang shahih dalam mazhab Syāfi’i adalah tidak boleh tayamum kecuali dengan debu”.

Lebih rinci lagi  Abu Ishaq al-Syairazi menjelaskannya ketentuan debu yang dapat digunakan untuk tayamum tersebut sebagai berikut:

ولا يجوز التيمم الا بتراب طاهر له غبار يعلق بالوجه واليدين[5]

Artinya: “Tidak diperbolehkan bertayamum kecuali dengan debu suci yang dapat berhamburan dan menempel pada wajah dan kedua tangan”.

Begitu juga yang dijelaskan oleh  Al-Mawaridi dalam kitab Al-Iqnā’ sebagai berikut:
والثاني التراب الطهر فلا يتيمم بما ليس بتراب ولا برمل ليس به غبار.[6]
Artinya: “Syarat yang kedua adalah tanah yang suci, maka tidak boleh bertayamum dengan benda yang tidak disebut tanah dan tidak boleh tayamum dengan pasir yang tidak berdebu”.

Keterangan yang senada pula dijelaskan oleh  Ahmad ibn Hajar Al-Haitamy dalam salah satu karya beliau kitab Tuhfah al-Muhtāj sebagai berikut:
ويشترط أن يكون له غبار.[7]
Artinya: “Dan disyaratkan keadaan tanah tersebut merupakan debu yang berhamburan”.

Demikian pula terkait disyaratkannya debu tersebut harus debu yang berhamburan, sebagaimana yang diulas oleh Ibn Hajar Al-Haitamy berikut:
ومسح جميع (وجهه ثم) مسح جميع (يديه مع مرفقيه) .[8] 
Artinya: “Dan disyaratkan menyapu seluruh wajahnya, kemudian menyapu sekalian dua tangannya hingga dua sikunya”.

Dari penjelasan tersebut dapat difahami bahwa para ulama sebenarnya tidak membatasi secara khusus debu yang dapat digunakan untuk tayamum dalam kategori tertentu. Namun, berdasarkan keterangan di atas dapat ditegaskan kriteria debu yang sah untuk tayamum menurut mazhab Syafi’i adalah:

a. Debu yang suci,
b. Ghubār (berhambur) yang melekat di tangan dan cukup untuk meratai anggota tayamum, maka minimal debu harus tampak padakasat mata, dan
c.  Tidak musta’mal (bukan debu bekas tayamum)

Berdasarkan kriteria ini, maka di manapun seseorang mendapatkan debu yang menempel di tangannya, selama memenuhi kriteria di atas maka dapat digunakan untuk tayamum. Misalnya ketika seseorang meraba sebuah benda seperti bebatuan, tembok, baju atau kain yang sudah usang, atau dinding kendaraan, lalu menempel debu yang melekat di tangannya, maka debu tersebut dapat digunakan untuk tayamum, sebab sejatinya debu yang menempel pada benda-benda itu berasal dari tanah yang berhamburan karena hembusan udara. Sebaliknya, jika debu itu tidak sampai terasa melekat pada tangan dan tidak nampak pada kasat mata karena hanya sedikit sekali, maka jelas tidak sah digunakan untuk tayamum. Sebagaimana penjelasan Abu Ishaq al-Syairazi sebagai berikut:

ولا يجوز التيمم الا بتراب طاهر له غبار يعلق بالوجه واليدين[9]
Artinya: “Tidak diperbolehkan bertayamum kecuali dengan debu suci yang dapat berhamburan dan menempel pada wajah dan kedua tangan”.

Keterangan ini juga dipertegas dalam fatwa ulama fuqaha’ sebagai berikut:
ويجوز أن يتيمم من غبار تراب على صخرة أو مخدة أو ثوب أو حصير أو جدار أو أداة ، قالوا : لو ضرب بيده على حنطة أو شعير فيه غبار ، أو على لبد أو ثوب أو جوالق أو برذعة فعلق بيديه غبار فتيمم به جاز ، لأنهم يعتبرون التراب حيث هو ، فلا فرق بين أن يكون على الأرض أو على غيرها ، ومثل هذا لو ضرب بيده على حائط أو على حيوان أو على أي شيء كان فصار على يده غبار- أما إذا لم يكن على هذه الأشياء غبار يعلق على اليد فلا يجوز التيمم بها [10].

Artinya: “Boleh bertayamum dengan hamburan debu yang terdapat pada batu, bantal, baju, keset jerami, tembok, atau peralatan. Para ulama berkata: ‘Jika seseorang menempelkan tangannya pada biji gandum yang terkandung debu yang berhambur, atau pada kain, baju, cawan atau pada pelana kuda, lalu menempel pada kedua tangannya hamburan debu dan ia tayamum dengan hamburan tersebut, maka hal tersebut diperbolehkan, sebab para ulama menjadikan pijakan debu (yang sah untuk tayamum) di mana pun  berada.  Maka tidak ada perbedaan apakah debu tersebut berada di tanah ataupun di tempat lainnya. Sama halnya seseorang menempelkan tangannya pada tembok, hewan, atau benda apa pun lalu pada tangannya terdapat hamburan debu. Adapun ketika pada benda-benda di atas tidak terdapat hamburan debu yang menempel pada tangannya, maka tidak boleh digunakan untuk tayamum”.

Ketentuan hukum di atas juga berlaku ketika diterapkan dalam menyikapi debu-debu yang menempel pada kursi atau dinding pesawat. Jika saat menempelkan tangan pada dinding pesawat terdapat debu yang melekat di tangan dan debu tersebut dapat berhamburan (ghubar), maka dapat digunakan untuk tayamum. Namun demikian, mesti dicatat bahwa jumlah debu di permukaan dinding pesawat itu mesti mencukupi untuk diratakan pada wajah dan kedua tangan, sebab meratakan wajah dan kedua tangan merupakan salah satu rukun dari tayamum itu sendiri.

Maka, jika hanya ditemukan sedikit debu, sehingga tidak cukup untuk meratakan wajah dan kedua tangan, maka tayamum dihukumi tidak sah, karena sebagian rukun dari tayamum tidak terpenuhi. Meninjau keadaan dalam pesawat, bilapun dikatakan terdpat debu di sana, namun sudah pasti debu yang ada sangatlah sedikit, karena keadaan pesawat yang sangat mengutamakan kebersihan.

Berdasarkan ulasan di atas  dapat dipahami bahwa debu yang menempel pada kursi atau dinding pesawat tidak dapat digunakan sebagai alat tayamum, karena tidak tergolong ghubār, yaitu dapat berhamburan seperti halnya sifat debu pada umumnya dan tidak cukup untuk mengusapkannya secara merata pada wajah dan tangan, sehingga bagi orang yang bersuci dengan cara tayamum dengan debu di dinding pesawat hukumnya tidak sah. Oleh karena itu, hendaknya seseorang yang akan melakukan shalat di dalam pesawat saat safir, harus membawa debu sendiri yang mencukupi untuk bertayamum dirinya.

Referensi:
[1]Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahnya…, h. 86.
[2]Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawāi’ al-Bayān Tafsīr Ayah al-Ahkām, Juz. I (Beirut: Dar Ibn ‘Ashashah, 2004), h .489.
[3]Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawāi’ al-Bayān Tafsīr Ayah al-Ahkām…, h.489
[4]Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz. II, (Beirut: Dar al-Fikr,  1996), h. 245.
[5]Abu Ishaq al-Syairazi, Al-Tambīh fī al-Fiqh al-Syāfi’ī, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), h. 20.

[6]Abu Hasan Ali Ibn Muhammad  al-Mawaridi, Al- Iqnā’ fī al-Fiqh al-Syāfi’ī, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t), h. 31.
[7]Ahmad ibn Hajar Al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtāj fī Syarh al-Minhāj, Jld. I, (Beirut: Dar Al-Fikr, 2009), h. 353.
[8]Ahmad ibn Hajar Al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtāj fī Syarh al-Minhāj…, h. 361.
[9]Abu Ishaq al-Syairazi, Al-Tambīh fī al-Fiqh al-Syāfi’ī, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), h. 20.
[10]Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Juz. 31, (Mesir: Mathabi’ dar al-Shafwah, 1427 H), h. 134.

Sekian...!!

Posting Komentar