Bagaimana Penimbunan Barang yang Dibolehkan dalam Al-Qur'an dan Bagaimana yang Dilarang- Kitabkuning90

Daftar Isi
Ulama  berpendapat bahwa perbuatan monopoli/penimbunan barang (ihtikār) adalah praktek yang dilarang dalam Islam. Sumber hukum dilarangnya penimbunan barang (ihtikār) ialah segala dalil larangan perlakuan al-zulm (aniaya) secara umum yang termasuk juga praktik penimbunan barang di dalamnya. Namun praktik ihtikār dalam al-Qur’an pernah digambarkan dalam surat Yusuf ayat 49 yang artinya: 

“Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang Amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur”. (QS. Yusuf [12]: 49). [1]

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam al-Qurthubi dalam karya beliau kitab Al-Jāmi’ li Ahkām Al-Qur’ān menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan kebolehan penimnunan makanan pokok bila untuk dikonsumsi sendiri, berikut uraian beliau:

وهو يدل على جواز احتكار الطعام إلى وقت الحاجة  الثانية[2]

Artinya: “Ayat ini menunjukkan di atas kebolehan penimbunan barang makanan pokok hingga waktu hajat mendatang”.

Namun bila ihtikār dimaksudkan untuk bisnis mencari keuntungan yang lebih besar, maka penimbunan barang (ihtikār) dilarang, kemudian beliau membawa dalil hadis Rasulullah saw sebagai pendukungya. Berikut ulasan beliau:

هذا فيه نظر إن كان المراد الغلاء، لما روى عنه عليه الصلاة والسلام :من احتكر حكرة يريد أن يغلى بها على المسلمين فهو خاطئ وقد برئت منه ذمة الله ورسوله" رواه أحمد والحاكم عن أبى هريرة في روايات في النهى عن الاحتكار. [3]

Artinya: “Di sini terdapat pengecualian, jika yang dimaksudkan adalah untuk memahalkan harga barang. Karena terdapat hadis dari Rasulullah saw: Barangsiapa menahan peredaran barang untuk niat membuat paceklik kaum Muslimin, maka dia bersalah (berdosa). Aku berlepas diri daripadanya terhadap tanggung jawabnya di hadapan Allah ﷻ dan Rasul-Nya." Hadits riwayat Ahmad dan al-Hakim dari jalur sanad Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu dalam bab riwayat larangan ihtikār”.

Selain surat Yusuf ayat 49, terdapat juga ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang melarang perbuatan ihtikār yang merupakan perbuatan zalim secara umum, yaitu surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah swt, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah [5]: 2). [4]

Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab Tafsir al-Jalalain menjelaskan secara singkat penafsiran ayat di atas sebagai berikut:

{وتعاونوا على البر} بفعل ما أمرتم به {والتقوى} بترك ما نهيتم عنه {ولا تعاونوا} فيه حذف إحدى التاءين في الأصل {على الإثم} المعاصي {والعدوان} التعدي في حدود الله {واتقوا الله} خافوا عقابه بأن تطيعوه {إن الله شديد العقاب} لمن خالفه[5]

Artinya: “(Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan) dalam mengerjakan yang dititahkan (dan ketakwaan) dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang (dan janganlah kamu bertolong-tolongan) pada ta`aawanu dibuang salah satu di antara dua ta pada asalnya (dalam berbuat dosa) atau maksiat (dan pelanggaran) artinya melampaui batas-batas ajaran Allah. (Dan bertakwalah kamu kepada Allah) takutlah kamu kepada azab siksa-Nya dengan menaati-Nya (sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya) bagi orang yang menentang-Nya”.

Meninjau dari sisi lain, praktik penimbunan barang yang dilakukan oleh pelakunya dengan tujuan untuk meraih keuntungan yang besar dalam perdagangan, hal ini tentu bertentangan dengan prinsip perdagangan, dalam Al-Qur’an ditegaskan:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa’ [4]: 29). [6]

Disamping dalil Al-Qur’an, terdapat banyak hadits yang seluruhnya menunjukkan pengertian larangan menimbun harta, sebagaimana dalam hadits riwayat sahabat Umar radliyallahu ‘anhu:

قال عمر: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من احتكر على المسلمين طعامهم ضربه الله بالإفلاس أو بجذام [14]

Artinya: “Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa melakukan penimbunan barang makanan atas orang Muslim, maka Allah swt akan timpakan kebangkrutan dan penyakit judzam”.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa akibat perbuatan orang yang melakukan penimbunan barang adalah kebangkrutan dan penyakit judzam. Mengaitkan praktik penimbunan barang dengan penyakit judzam (sejenis lepra) adalah memang hal yang aneh. Sebuah hal yang tentunya Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Namun, bila mengaitkan antara praktik penimbunan barang dengan kebangkrutan, memang ada benarnya. Akibat ulah satu pihak oknum yang menguasai pasar barang, ulah penimbunannya bisa menyebabkan krisis bagi satu negara.  Dalam kesempatan lain, Abu Hurairah r.a berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

من احتكر حكرة يريد أن يغلي بها على المسلمين فهو خاطئ, رواه أحمد

Artinya: “Barangsiapa menimbun barang yang dibutuhkan orang Muslim, dengan niat membuatnya mahal (paceklik), maka dia orang yang bersalah (pendosa)”. (HR. Ahmad).

Imam Al-Syaukani mengomentari semua hadits yang bercerita tentang bab penimbunan barang ini, sebagai berikut:

لا شك أن أحاديث الباب تنهض بمجموعها للإستدلال على عدم جواز الإحتكار [15]

Artinya: “Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya semua hadits dalam bab ini secara global membangkitkan arah dalil akan ketidakbolehan praktik penimbunan barang”.

Kesimpulannya bahwa penimbunan barang pada barang kebutuhan pokok hukumnya haram bila tujuannya untuk mencari keuntungan lebih dalam perdagangan, bila untuk bekal konsumsi dalam jangka panjang maka dibolehkan. Sedangkan menimbun selain barang kebutuhan pokok, bila berdampak kepada kemudharatan yang besar, maka tetap dihukumi haram pula. Dalam arti kata ihtikār (penimbunan barang) selain kebutuhan pokok dibolehkan selama tidak berdampak kepada kemudharatan yang besar bagi orang banyak.

Referensi:
[1]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya…, h. 242.
[2]Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthuby, Al-Jâmi’ li Ahkâmi al-Qur’ân, Jld.IX, (Beirut: Daru al-Fikr, tt), h.204.
[3]Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthuby, Al-Jâmi’ li Ahkâmi al-Qur’ân…, h.204.
[4]Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2010), h. 141.
[5]Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, jld.I, (Kairo: Dar al-Hadis, tth), h. 135.

[6]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahan…, h. 83.
[7]Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syariīah wa al-Manhaj, Jld.V, (Damsyiq: Dar al-Fikr al-Ma’ashir, 1418), h.32.
[8]Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: Toha Putra, 1986), h.27.
[9]Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, Tafsīr al-Munīr…, h.34.
[10]Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, Tafsīr al-Munīr…, h.32.

[11]Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatul Akhyar …, h.239.
[12]Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syariīah wa al-Manhaj, Jld.V, (Damsyiq: Dar al-Fikr al-Ma’ashir, 1418), h.35.
[13]Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, Tafsīr al-Munīr…, h.32.
[14]Al-Hafidh ‘Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Katsir, Tafsir Al-Qur’ân al-‘Adhîm, Jld.I, (Kairo: Maktabah Aulâdu al-Syeikh li al-Turath, 2000), h.492.
[15]Muhammad bin Ali bin Muhammad Al-Syaukani, Nailu al-Authâr Syarah Muntaqiy al-Akhbâr min Ahâdîthi Sayyida al-Akhbâr, Jld.V, (Maktabah Mushthofa al-Halaby, tt), h.250.

Penulis: Inan,id
Semoga bermanfaat!!

Posting Komentar