Pengertian Zakat, Dasar Hukum dan Syarat-Syaratnya (Kitabkuning90)
![]() |
| Konsep Zakat |
Pengertian Zakat
Secara etimologis, kata “zakat” berarti “suci”, “berkembang” dan “barakah”.[1] sebagaimana dalam Al-Quran disebutkan beberapa makna zakat diantaranya menggunakan kata “zakat” dengan arti “suci” dalam QS. Maryam ayat 13: “Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam [19]: 13).
Ditinjau dan segi bahasa, kata zakat merupakan kata dasar (mashdar) dari “zaka” yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang, dan seorang itu zaka, berarti orang itu baik. Senada dengan keterangan dari Syaikh Ali al-Syibranmalasī dalam Ḥasyiyyah al-Syibranmalasī berikut:[2]
قوله: هي لغة: التطهيرأي والإصلاح والنماء والمدح
Artinya: “Perkataan pengarang; Zakat menurut bahasa adalah suci, maksudnya berarti juga kebaikan, berkembang, dan terpuji”.
Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, zakat berarti jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’.[3] Sedangkan dalam Kamus Idris Al-Marbawi, zakat berarti “menyucikan, membersihkan”.[4] Secara istilah, meskipun para ulama mengemukakannya dengan redaksi yang berbeda antara satu dan lainnya, tetapi pada prinsipnya sama, sebagaimana definisi zakat dalam kitab Fatḥ al-Qarīb berikut:
وهي لغة النماء، وشرعا اسم لمال مخصوص، يؤخذ من مال مخصوص، على وجه مخصوص، يصرف لطائفة مخصوصة[5]
Artinya: “Zakat secara bahasa adalah al-nama’/bertambah-tambah, sedangkan menurut istilah adalah nama bagi harta tertentu yang diambilkan dari sejumlah harta tertentu, dengan cara tertentu dan dibagikan kepada kelompok tertentu”.
Adapun dalam kitab Kifāyah al-Akhyār didefinisikan zakat adalah nama dari sejumlah harta yang tertentu yang diberikan kepada golongan tertentu dengan syarat tertentu. Sedangkan dalam kitab Fatḥ al-Mu‘īn, zakat adalah nama sesuatu yang dikeluarkan (diambil) dari harta atau badan dengan ketentuan tertentu.[6] Sementara Syekh Kamil Muhammad Uwaidah menyatakan menurut bahasa zakat berarti pengembangan dan pensucian.[7] Harta berkembang melalui zakat, tanpa disadari di sisi lain mensucikan pelakunya dari dosa.
Sedangkan al-Jaziri mengatakan zakat ialah memberikan harta tertentu sebagai milik kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat yang ditentukan.[8] Dari berbagai rumusan yang ada dapat disimpulkan bahwa zakat adalah nama bagi kadar atau ukuran tertentu dari harta kekayaan yang dimiliki seseorang untuk diserahkan kepada golongan masyarakat yang berhak menerimanya dan telah diatur dalam Al-Quran.
Dasar Hukum Zakat dalam Al-Qur’an
Zakat merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang memiliki kelebihan harta. Adapun landasan dasar hukum tentang zakat antara lain:
a. QS. Al-Taubah ayat 11: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama, dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui”. (Q.S. Al-Taubah [9]: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa disamping dengan taubat dari kekufuran dan shalat, seseorang barulah sah sebagai saudara seagama dalam barisan umat Islam harus menunaikan zakat pula yang merupakan salah satu rukun atas keislamannya. [9]
b. Q.S Al-Taubah ayat 34: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS At Taubah [9]: 34).[10]
c. Q.S Al-Baqarah ayat 267: “Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 267).[11]
d. Q.S Al-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Taubah [09]:103)[12]
e. Q.S Al-Dzariyaat ayat 19: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan ada juga untuk orang miskin yang tidak mendapat bagian”. (Al-Dzariyaat [51]: 19).[13]
Syarat Wajib dan Syarat Sah Zakat
Seseorang yang memiliki harta lebih yang akan dikeluarkan zakatnya harus telah memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan secara syara’. Wahbah al-Zuhaili membagi syarat ini menjadi dua, yaitu syarat wajib dan syarat sah.[14] Adapun syarat wajib zakat adalah:
للزكاة شروط وجوب وشروط صحة، فتجب بالاتفاق على الحر المسلم البالغ العاقل إذا ملك نصابا ملكا تاما، وحال عليه الحول[15]
Artinya: “Zakat mempunyai syarat wajib dan syarat sah. Wajib zakat dengan kesepakatan ulama di atas orang merdeka, Islam, baligh, berakal, mencapai nisab, milik sempurna, dan sampai tahunnya”.
Keterangan Wahbah al-Zuhaili tersebut menegaskan terdapat tujuh syarat yang menentukan seseorang telah wajib mengeluarkan zakat, yaitu:
a. Islam
b. Merdeka
c. Baligh
d. Berakal
e. Harta tersebut telah mencapai nisab (jumlah yang sudah ditentukan)
f. Harta tersebut adalah milik penuh
g. Telah berlalu satu tahun atau cukup haul (ukuran waktu). [16]
Adapun terkait syarat sahnya zakat, Wahbah al-Zuhaili menegaskan sebagai berikut:
وتصح بالنية المقارنة للأداء اتفاقا[17]
Artinya: “Sah zakat dengan adanya niat yang beriringan dengan memberikan zakat berdasarkan kesepakatan ulama”.
Berdasarkan redaksi ini, maka syarat sah zakat dapat ditetapkan kedalam dua perkara, yaitu: Adanya niat muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) dan adanya pengalihan kepemilikan dari muzakki ke mustaḥiq (orang yang berhak menerima zakat), atau ‘āmil (pengelola) zakat. [18]
Referensi:
[1]Muhammad Al-Ramlī, Nihāyah Al-Muhtᾱj ilᾱ Syarḥ al-Minḥᾱj, Jld.III, (Beirut: Dār Al-Kutūb Al-Ilmiyah, 1998), h. 43.
[2]Nuruddin ibn Ali al-Syibranmalasī, Ḥasyiyyah al-Syibranmalasī; dalam kitab Nihāyah Al-Muhtᾱj ilᾱ Syarḥ al-Minḥᾱj, Jld.III, (Beirut: Dār Al-Kutūb Al-Ilmiyah, 1998), h. 43.
[3]Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Ed. Ke. II, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 1279.
[4]Muhammad Idris Abd al Ro’uf Al-Marbawi, Kamus Idris al Marbawi, Juz.I, (Beirut: Dar Ihya al Kutub al Arabiyah, tth), h.267.
[5]Syekh Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi, Fath al-Qarīb al-Mujīb, (Semarang: Pustaka Alawiyah, t.th) h.119.
[6] Zainuddin Ibnu Abd Aziz Al-Malibarī, Fatḥ al Mu‘īn bi Syarḥ Muhimmah al-Dīn, (Kairo: Maktabah Dar al Turas, 1980), h.5.
[7]Uwaidah, Kamil Muhammad, Fiqih Wanita, (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 1998), h. 263.
[8]Abdurrrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘alā al Mażāhib al-Arba‘ah, (Beirut: Dār al Fikr, 1972), h.449
[9]Wahbah Al-Zuhailī, Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī‘ah wa al-Manhaj, Jld.X, (Damsyiq: Dār al-Fikr al-Ma‘āṣir, 1418), h. 123.
[10]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya..., h.192.
[11]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya..., h.27.
[12]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya..., h.204
[13]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahan…, h.522
[14]Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuh, Juz. III, (Beirut: Dār al-Kutūb al-Ilmiyah, t.t), h. 1797.
[15]Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuh…, h. 1797.
[16]Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuh…, h. 17
[17]Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuh…, h. 1797.
[18]Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuh…, h. 1811-1812.

Posting Komentar