Penting!! Bolehkan Cebok (Istinja) dengan Tisu - Kitabkuning90

Daftar Isi
Kitabkuning90.blogspot.com


BOLEHKAH CEBOK (ISTINJA) DENGAN TISU PADAHAL ADA AIR? 

Pertanyaan:
 Apakah boleh membersihkan bekas kencing dan buang air besar menggunakan tisu, padahal di depannya tersedia air dalam jumlah banyak? Apakah istinja dengan tisu tetap sah menurut mazhab Syafi'i? 

Jawaban: 
Boleh dan sah, selama memenuhi syarat-syarat istijmar. 

Tersedianya air tidak menjadi penghalang sahnya istijmar dengan benda padat yang memenuhi ketentuan syariat, seperti batu atau tisu. 

Untuk memahami persoalan ini, perhatikan beberapa ibarah ulama Syafi'iyah berikut.

1. Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa benda selain batu juga dapat digunakan 

Dalam Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, Kitab al-Thaharah, Bab al-Istithabah, Imam al-Nawawi membahas kebolehan menggunakan benda selain batu untuk istijmar. Di antara ketentuan yang dijelaskan dalam pembahasan tersebut ialah:
 ويجوز الاستجمار بكل جامد طاهر قالع غير محترم 
"Diperbolehkan istijmar dengan setiap benda padat yang suci, dapat menghilangkan najis, dan bukan benda yang dimuliakan." 

Catatan: Istijmar (الاستجمار) adalah bersuci dari najis yang keluar dari qubul atau dubur dengan menggunakan benda padat yang suci dan dapat membersihkan, seperti batu atau tisu, tanpa menggunakan air. 

Maksudnya, yang menjadi pertimbangan bukan semata-mata apakah benda itu batu, melainkan apakah benda tersebut memenuhi kriteria yang ditetapkan. Tisu yang memenuhi kriteria itu dapat digunakan sebagai pengganti batu. 
2. Keterangan dalam Al-Majmu': harus menghilangkan benda najis dan melakukan tiga usapan 

Imam al-Nawawi menjelaskan:
 إن أراد الاقتصار على الحجر لزمه أمران: أحدهما أن يزيل العين حتى لا يبقى إلا أثر لاصق لا يزيله إلا الماء، والثاني أن يستوفي ثلاث مسحات 
"Jika seseorang hendak mencukupkan diri dengan batu, ia harus memenuhi dua hal: pertama, menghilangkan benda najis hingga tidak tersisa kecuali bekas yang melekat dan hanya dapat dihilangkan dengan air; kedua, menyempurnakan tiga usapan." 

Referensi: Imam al-Nawawi, Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, jilid 2, hlm. 121–122 

Ibarah ini memperlihatkan bahwa istijmar memiliki ketentuan khusus. Bukan sekadar mengusap sekali lalu dianggap selesai. Benda najis harus hilang, dan jumlah usapan minimal tiga, dengan tambahan usapan jika belum bersih. 

3. Air lebih utama, tetapi bukan berarti tisu tidak sah 

Imam al-Nawawi juga menerangkan dalam pembahasan yang sama:
 والأفضل أن يجمع بينهما فيستعمل الحجارة ثم يستعمل الماء، فإن اقتصر على أحدهما فالماء أفضل 
Artinya: "Yang lebih utama adalah menggabungkan keduanya, yaitu menggunakan batu terlebih dahulu, kemudian menggunakan air. Jika mencukupkan diri dengan salah satunya, air lebih utama." 

Referensi: Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, Kitab al-Thaharah, Bab al-Istithabah 

Dengan demikian, ada perbedaan antara sah dan lebih utama. Istijmar dengan tisu dapat sah jika syaratnya terpenuhi, sedangkan penggunaan air lebih utama apabila hanya memilih salah satunya. Menggabungkan tisu dan air merupakan cara yang lebih sempurna. 

4. Tisu harus memenuhi syarat istijmar 

Dalam Tuhfat al-Muhtaj, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami membahas syarat-syarat istijmar, di antaranya benda yang digunakan harus memenuhi ketentuan dan najis tidak boleh keluar dari batas tempat keluarnya yang biasa. Di antara syarat praktis yang harus diperhatikan ialah: 
  • Tisu suci, padat, dan mampu menghilangkan benda najis. ​ - Najis belum mengering. ​ 
  • Najis tidak menyebar melewati batas tempat keluarnya yang biasa. ​ 
  • Tidak ada cairan lain yang mengenai tempat tersebut sehingga istijmar tidak lagi mencukupi. ​ 
  • Dilakukan sekurang-kurangnya tiga usapan sampai bersih dari benda najis. 
Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, penggunaan air menjadi wajib. 

Referensi: Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfat al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, Kitab al-Thaharah, pembahasan istinja. 

Kesimpulan: 
Menurut mazhab Syafi'i, membersihkan bekas kencing dan buang air besar dengan tisu tetap boleh dan sah meskipun air tersedia banyak, selama syarat-syarat istijmar terpenuhi. 

Namun, apabila air tersedia dan mudah digunakan, menggunakan air lebih utama daripada mencukupkan diri dengan tisu. Menggunakan tisu terlebih dahulu lalu membasuhnya dengan air merupakan cara yang lebih sempurna. 

Jadi, persoalannya bukan sekadar ada atau tidak adanya air, melainkan apakah cara istijmar yang dilakukan telah memenuhi ketentuan fikih. 

Tambahan: 
Dalam kitab Al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi‘i karya Imam al-‘Imrani:
 والإنقاء في الأحجار هو أن لا يبقى إلا أثر لاصق لا يزيله إلا الماء، فيعفى عن ذلك الأثر؛ لأنا قد بينا أن استعمال الماء غير واجب 
“Batas bersih dengan batu ialah tidak tersisa kecuali bekas yang melekat, yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan air. Bekas tersebut dimaafkan, karena telah kami jelaskan bahwa penggunaan air tidak wajib.” (Al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi‘i, jilid 1, hlm. 213)

Posting Komentar