Pembagian kaidah Fiqhiyyah (kaidah Induk, Kulliyah dan Juz'iyyah) - Kitabkuning90

Daftar Isi
Kitabkuning90.blogspot.com
Kaidah Fiqhiyyah

Memandang dari definisinya, kaidah adalah undang-undang yang sifatnya umum yang terkadang berlaku terkhusus pada satu masalah bab dan adakala tidak terkhusus pada satu bab. Sebagaimana yang diterangkan oleh Tajuddin al-Subki berikut:

القاعدة: الأمر الكلي الذي ينطبق عليه جزئيات كثيرة يفهم أحكامها منها. ومنها ما لا يختص بباب كقولنا: "اليقين لا يرفع بالشك" ومنها ما يختص كقولنا: "كل كفارة سببها معصية فهي على الفور"[1].

“Kaidah adalah perkara umum yang tersusun di atasnya segala bahagian-bahagian masalah yang banyak yang dapat dipahami hukumnya dari perkara umum tersebut. Sebahagian dari pada kaidah adalah perkara yang tidak terkhusus dengan satu bab, seperti perkataan dalam madzhab kita “Keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan”. Dan sebahagiannya adalah perkara yang khusus dengan satu bab, seperti perkataan dalam madzhab kita “Semua kafarah penyebabnya adalah kemaksiatan, maka membayar kafarah harus disegerakan”.

Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa kaidah ditinjau dari tempat berlakunya dapat diklasifikasikan kepada dua, yaitu; kaidah yang terkhusus berlaku pada satu bab fiqh, dan kaidah yang tidak terkhusus pada satu bab. Namun ditinjau dari sisi cara berlakunya, Jalaluddin al-Suyuthi membaginya menjadi tiga sebagai berikut:

الكتاب الأول: في شرح القواعد الخمس التي ذكر الأصحاب أن جميع مسائل الفقه ترجع إليها. الكتاب الثاني: في قواعد كلية يتخرج عليها ما لا ينحصر من الصور الجزئية، وهي أربعون قاعدة: الكتاب الثالث: في القواعد المختلف فيها، ولا يطلق الترجيح لظهور دليل أحد القولين في بعضها ومقابله في بعض، وهي عشرون قاعدة.[2]

“Kitab yang pertama membahas tentang syarahan kaidah-kaidah yang 5 yang disebutkan oleh para Ashāb bahwa sungguh semua masalah fiqh merujuk kepadanya. Kitab yang kedua membahas tentang kaidah-kaidah kuliah yang keluar dari padanya perkara-perkara yang tak terhingga dari pada permasalahan-permasalahan ju’iyyah, dan jumlah kaidah ini ada 40. Kitab yang ketiga membahas tentang kaidah-kaidah yang diperselisihkan ulama dan tidak ada ketetapan yang memperkuat, karena jelas dalil salah satu dari pada dua pendapat tersebut pada sebahagiannya dan jelas dalil pada lawan pendapat tersebut pada sebahagian yang lain, dan jumlah kaidah tersebut ada 20 kaidah”.

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa menurut Jalaluddin al-Suyuthi kaidah dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu kaidah induk, kaidah kulliyyah dan kaidah juz’iyyah yang masih diperselisihkan ulama.

Referensi:
[1]Tajuddin Abdul Wahab Ibn Taqiyuddin Al-Subki, Al-Asybāh wa al-Nazhāir, Jld.1, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1991), h. 11.
[2]Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybāh wa al-Nazhāir, Cet. 1, (Surabaya: Al Hidayah, 1965), h. 4

Posting Komentar