Cara menemukan rasa manis dan kenikmatan Beramal - Kitabkuning90

Daftar Isi
Tanda amalmu diterima Allah di akhirat ternyata bisa dirasakan sejak di dunia. Ciri utamanya cuma satu: ketika kamu merasa berat, tapi terus dipaksa, sampai akhirnya berbuah rasa manis yang luar biasa.

Imam as-Syarqawi dalam Syarh al-Hikam li al-Syarqawi menjelaskan:

مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلاً فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ الْقَبُولِ آجِلاً، ثَمَرَةُ الْعَمَلِ وَجْدَانُ الْحَلَاوَةِ فِيهِ وَالنَّعِيمِ بِهِ، وَيَتَصَوَّرُ ذَلِكَ فِي أَكْثَرِ الْأَعْمَالِ بِالْمُوَاضَبَةِ عَلَيْهِ حَالَ كَرْهِهِ وَاسْتِثْقَالِ لَهُ، هَذَا هُوَ غَالِبُ الْأَمْرِ، قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ لَيْسَ شَيْءٌ مِنَ الْبِرِّ إِلَّا وَدُونَهُ عَقَبَةَ يَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ فِيهَا ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَى شِدَّتِهَا أَفْضَى إِلَى الرَّاحَةِ وَالسُّهُولَةِ، وَإِنَّمَا هِيَ مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ ثُمَّ مُخَالَفَةُ الْهَوَى، ثُمَّ مُكَابَدَةٌ فِي تَرْكِ الدُّنْيَا ثُمَّ اللَذَّةِ وَالتَّنْعُمِ، وَقَالَ عُتْبَةَ الْغُلَامِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: كَابَدْتُ اللَّيْلَ عِشْرِينَ سَنَةً ثُمَّ تَنَعَمْتُ بِهِ عِشْرِينَ سَنَةً، وَقَالَ ثَابِتُ الْبُنَانِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: كَابَدْتُ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَتَنَعَمْتُ بِهِ عِشْرِينَ سَنَةً

Barang siapa yang mendapati buah dari amal perbuatannya secara kontan (segera), maka itu adalah petunjuk atas adanya penerimaan (di sisi Allah) secara tertunda (di akhirat kelak).

Buah dari amal adalah ditemukannya rasa manis dan kenikmatan di dalamnya. Hal tersebut tergambar pada kebanyakan amal dengan cara terus-menerus mengerjakannya meskipun dalam keadaan tidak menyukai dan merasa berat terhadapnya; ini adalah keumuman keadaannya.

Sebagian orang arif (ahlul ma, rifah) berkata: 'Tidak ada suatu kebaikanpun melainkan di hadapannya terdapat rintangan yang membutuhkan kesabaran di dalamnya. Barang siapa yang bersabar atas kesulitan rintangan tersebut, maka ia akan sampai pada ketenangan dan kemudahan.'

Sesungguhnya hal itu hanyalah berupa perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadah), kemudian menyelisihi hawa nafsu, kemudian bersusah payah dalam meninggalkan dunia, lalu (beralih kepada) kenikmatan dan kesenangan beribadah.

'Utbah Al-Ghulam radhiyallahu ta'ala 'anhu berkata: 'Aku bersusah payah (beribadah) di malam hari selama dua puluh tahun, kemudian aku menikmati ibadah tersebut selama dua puluh tahun.'

Dan Tsabit Al-Bunani radhiyallahu ta'ala 'anhu berkata: 'Aku bersusah payah (berinteraksi dengan) Al-Qur'an selama dua puluh tahun, kemudian aku menikmati Al-Qur'an tersebut selama dua puluh tahun.

Manisnya iman adalah hasil sebuah mujahadah dengan kesabaran terhadap ketaatan dan menahan terhadap kemaksiatan, baik kemaksiatan hati maupun jasad.

Sekian, semoga bermanfaat.

Posting Komentar